Perjalanan di Biak, Papua

“ akhir May 1944, sekitar 12.000 pasukan Sekutu dipimpin Jenderal Mac Arthur mendarat di kepulauan Schouten, kurang lebih 350 mil barat pulau Biak yang merupakan bagian dari Hindia Belanda. Armada ini merupakan bagian dari Hurricane Task Force yang akan menghadapi pertempuran sengit di pulau pulau yang diduduki tentara Jepang.
MacArthur menegaskan, ‘this marks the strategic end of the New Guinea campaign’ “

Matahari belum sepenuhnya menampakan diri, ketika pesawat Garuda yang membawa kami mendarat pukul 6 pagi di Bandara udara Frans Kasiepo, Biak, Papua. Rasa lelah setelah 7 jam terbang dari Jakarta terobati melihat hamparan biru laut dan pulau pulau indah yang terlihat terhampar dari udara. Dengan berjalan kaki kami tiba di hotel Irian yang hanya berjarak 100 meter dari gerbang Bandar udara, sementara barang barang bagasi dibawa oleh petugas dari Biak Diving yang menjemput kami. Hari ini kami bertujuh akan memulai petualangan selam di sekitar pulau Biak.

Hotel Irian, sebuah hotel bekas peninggalan jaman Belanda terlihat unik dengan arsitektur kayu ala era kolonial. Ruang Lobby, serta deretan kamar kamar di sayap kiri dan kanan, masih menggunakan konstruksi kayu yang tak berubah sejak tahun 50 an. Sementara kami menempati deretan kamar di area bawah di tepi pantai.

Kota ini memang unik, karena pernah menjadi kota perdagangan di garis depan Pulau Papua. Berbagai macam etnik ditemu disini. Bugis, Buton, Jawa, Manado, Makasar, Ambon, Madura dan tentu saja penduduk asli Papua.
Ketika Garuda Indonesia masih mempunyai penerbangan Jakarta – Los Angeles, mereka transit di Biak. Tak heran Biak ramai dan selalu sibuk. Bandara Frans Kasiepo meruupakan salah satu bandara di Indonesia yang dapat didarati pesawat besar sejenis Boeing 747. Kini semuanya mendadak sepi, sejak Garuda menghentikan penerbangan jarak jauhnya ke Amerika. Juga sebuah bekas hotel bintang 5 yang kini menjadi sarang belukar dan menyeramkan.

Sesekali turis Jepang datang untuk mengunjungi Memorial Park – taman kenangan prajurit Jepang masa PD II – yang terlihat sangat indah. Tentu saja dengan dana perawatan rutin dari Pemerintah Jepang.
Sisa sisa peninggalan bekas pendudukan tentara Jepang masih bisa dilihat seperti gua gua perlindungan dan beberapa onggokan mesin perang seperti meriam dan tank.
Salah satu yang menjadi sasaran penyelaman kami adalah wreck bekas Pesawat PBY Catalina yang tenggelam di kedalaman di lepas pantai timur pelabuhan Biak.

Setelah menempuh sekitar 15 menit dengan kapal jukung dari pantai, kami berhenti disebuah titik. Hujan deras tak menghalangi visibility yang sangat bagus saat itu. Kurang lebih 30 meter jarak pandang dalam air.

Kami harus bergegas cepat menuju kedalaman 30 meter tempat pesawat itu tergeletak utuh. Menakjubkan, sebuah melihat sebuah benda asing ditengah kesunyian dalamnya laut. Sendiri dan terasing.

PBY Catalina adalah pesawat terbang amphibi buatan Amerika yang diproduksi Consolidated Aircraft antara tahun 1930 sampai 1940. Diperlengkapi oleh bom, torpedo dan senapan mesin, pesawat ini menjadi salah satu pesawat multi-role yang paling sering digunakan selama perang dunia ke 2.
Tidak ada catatan jelas sebab pesawat ini tenggelam, namun kalau dilihat dari keutuhan seluruh body pesawat, hampir tidak mungkin jatuh karena tembakan musuh. Besar kemungkinan jatuh karena problem teknis kerusakan mesin.

Salah satu sebab pesawat ini masih relatif utuh karena letaknya yang dalam sehingga menyulitkan pedagang pedagang besi tua untuk memungutnya. Ini berbeda dengan wreck yang terletak lebih dangkal dekat pantai, umumnya tak bisa bertahan lama karena dijarah oleh manusia. Sungguh amat disayangkan karena wreck wreck bangkai kapal ini bisa menjadi terumbu karang artificial sebagai rumah ikan.
Beberapa permukaan pesawat sudah ditumbuhi oleh coral coral dan kelak kalau sudah memenuhi seluruh tubuh pesawat akan membuatnya tak terlihat sebagai pesawat utuh lagi.

Dalam pemotretan bawah air, kita selalu harus mengetahui – serta menentukan – obyek apa yang akan kita ambil. Wide angle atau makro. Karena dengan kamera DSLR yang terbungkus dengan housing kamera, kita tak bisa mengganti lensa di dalam air. Sementara jika sudah menyelam, kita tak bisa naik ke permukaan dan langsung kembali menyelam. Ini karena ada prinsip prinsip fisika dan keselamatan tubuh yang harus dipatuhi.

Menyelam sudah membutuhkan ketrampilan sendiri, apalagi ditambah dengan mengoperasikan kamera. Saya membutuhkan penyelaman berpuluh puluh kali sebelum memutuskan membawa kamera dan lensa seharga puluhan juta ke dalam air. Perhitungan yang meleset dan kecerobohan akan membuat harga kamera yang mahal menjadi sia sia.

Khusus untuk memotret bangkai pesawat ini, saya menggunakan lensa Nikon 10,5 mm dengan bantuan 2 buah strobe DS 125 dikiri kanan, sehingga bisa mendapatkan keseluruhan body pesawat. Sangat beruntung tidak ada arus sehingga memudahkan saya bermanuver. Kemudian saya memberi kode kepada buddy dive saya untuk melayang diatas ekor pesawat. Ini memberikan perspektif tentang ukuran besar pesawat dengan tubuh manusia.

Beberapa hari selanjutnya ekspedisi kami menuju ke utara, arah kepulauan Padaido. Mengagumkan bahwa visibility sangat jernih. Superb visibility. Terlebih disekitar Atol Mansoor Babu. Kami sampai kembali lagi ke tempat yang sama pada hari ketiga.
Terumbu karang di tempat ini agak berbeda dengan area lain disekitar Biak yang umumnya hancur karena pengeboman. Walau sudah berkurang, kadang kala masih ditemui metode penangkapan ikan menggunakan bom. Kerusakan terumbu karang ini menjadi problem yang sangat serius bagi ekosistem bawah laut di teluk Cendrawasih. Padahal ikan ikan dan mahluk lainnya membutuhkan terumbu karang sebagai rumah dan lingkungan hidupnya.

Disini kehidupan terumbu karang masih sangat sehat. Begitu banyak hamparan sea fans raksasa dalam susunan dinding – wall – di sekitar atoll. Selain itu banyaknya soft coral jenis leather membuat saya mencoba menggabungkan teknik pemotretan balance antara pencahayaan flash / strobe dengan cahaya matahari yang masuk dari permukaan air.

Ada sebuah teori pemotretan wide angle photo bawah air yang saya percaya. Always look up. Selalu mengarah ke atas menghadap permukaan air dalam memotret. Ini yang dimaksud, karena kemampuan cahaya strobe tak akan mampu menerangi seluruh area, sehingga dibutuhkan kombinasi antara available light dan strobe.

Ada sebuah Sea fans merah, jenis dari Melithaea yang menarik perhatian saya. Karena arus tenang, saya menyetel kamera ke manual mode, dengan ISO 400, speed 1/80 dan f stop 14. Sedang dua strobe SA 100 di kiri kanan, saya setel menggunakan TTL mode.
Sea fans juga menyediakan makanan dan rumah bagi mahluk mahluk kecil small creatures yang banyak bermukim dibalik labyrith ranting rantingnya.

 

Didekat sini ada beberapa ceruk – gua –membuat penyelaman seperti memasuki lorong yang menyeramkan. Dinding dinding terjal dan cave seperti mengesankan petualangan menuju dunia antah berantah.
Dalam pemotretan kali ini, saya tidak mengandalkan kemampuan flash / strobe. Jadi saya memakai teknis available light. Ini justru menghasilkan gambar gambar mencekam. Sang model – buddy dive saya – menjadi sosok yang terasing sendiri dalam labirin labirin ceruk gua gua bawah laut.

Kami melakukan surface interfal , sambil makan siang di Pulau owi . Seperti biasa rekan saya, Chris – wartawan Majalah Intisari – selalu menyempatkan membagi bagikan buku bacaan untuk anak anak di pulau yang kami kunjungi.

Dalam penyelaman ada prinsip prinsip yang harus dipatuhi karena berhubungan dengan keselamatan penyelam, yakni safety stop di kedalaman 5 meter. Demikian pula surface interval. Setelah penyelaman kita harus menunggu beberapa waktu, tergantung table dan profile penyelaman sebelumnya. Dalam menyelam kita menghirup oksigen dari tabung, dan sekaligus menyerap nitrogen. Sehingga kita membutuhkan waktu untuk mengeluarkan akumulasi nitrogen yang terserap itu keluar dari tubuh kita. Semakin lama atau sering kita menyelam, semakin lama pula surface interfal yang dibutuhkan.

Jika kita mengabaikan keharusan ini, berpotensi decompression sickness yang bisa mengakibatkan kelumpuhan bahkan kematian. Itulah sebabnya kita sering menjumpai penyelam penyelam tradisional yang menderita kelumpuhan karena tidak mengindahkan kaidah kaidah penyelaman.

Setelah makan siang, kami menuju ke Mark Point sebuah titik dimana arus mulai kencang. Sebagaimana prinsip prinsip yang kami yakini. No Current No Life. Jika ada arus berarti akan banyak ditemui ikan.

Ini tidak salah. Dikejauhan tampak school of Baracuda, kerumunan ikan black fin baracuda = sphyraena genie - dengan elegannya meliuk liuk di tengah arus yang deras. Sebelumnya saya sudah memperkirakan bahwa kita tak mungkin mendekati mereka sedekat mungkin, sehingga saya sudah menyiapkan lensa yang memiliki kemampuan zoom seperti Nikon 18 – 70 mm. Adrenalin saya bergejolak. Sesegera mengayuhkan kaki mendekatkan rombongan ikan ikan Baracuda tersebut. Berbahaya ? tidak juga.

Salah satu ketrampilan menyelam yang sangat dibutuhkan dalam pemotretan bawah air adalah bagaimana mengenali pola arus yang terjadi serta kemampuan buoyancy – melayang – dalam air. Ini penting sekali karena kita harus bisa mendekati obyek atau ikan ikan tanpa membuat mereka merasa terganggu. Jika kita sudah sibuk dan panik sendiri, tentu ikan ikan akan lari menjauh.
Saya membiarkan tubuh saya terseret arus – drift dive – menuju arah gerombolan ikan ikan Baracuda. Yang jelas saya begitu asyik memotret ikan ikan ini sampai tak terasa terbawa menuju laut lepas.
Begitu menyadari posisi saya yang sudah terlalu jauh, secepatnya pula saya kembali menuju dinding wall dimana buddy dive saya menunggu dengan sabar. Sekaligus cemas.

Didekat Mike Point, selain atraksi Baracuda, kami juga menemukan rombongan ikan lainnya. School of Jack. Ikan ikan kuwe hampir dikedalaman 30 meter. Tak sia sia kami menempuh perjalanan panjang dari Jakarta untuk melihat dunia bawah laut Biak yang mengagumkan.

Tak lupa saya menyempatkan berburu makro, walaupun tak banyak yang didapat diperairan sini. Dalam penyelaman di sekitar pulau Rusbas dengan lensa Nikon micro 60mm, saya mendapati porcelen crab bergerak diatas anemone. Tentu dibutuhkan kesabaran untuk menunggu saat tepat ketika dia muncul kembali.
Untuk beberapa obyek saya berkeinginan mendapatkan creatures tersebut sangat dominan dengan background gelap. Seperti seekor ikan gobby blenny diatas ranting seawids atau kuda laut. Strobe saya atur dengan kekuatan ¼ power, kamera speed 1/160 dan f stop 24.

Hari hari menyelam di Pulau Biak dan sekitarnya menawarkan sesuatu tentang keindahan alam negeri ini. Sesuatu yang terlupakan oleh manusia manusia Jakarta. Ikan ikan nemo – tomatoes clown fish – yang lincah menari nari menjadi saksi ekosistem bawah laut yang patut dijaga dan dilestarikan. Seolah berkata ‘ tolong jangan hancurkan rumah kami ‘.
Konon diperbatasan dengan Laut Pacific sana, di utara Biak, terletak kepulauan Mapia yang pemandangan bawah lautnya lebih dasyat. Sayang sangat tidak dimungkin karena harus menempuh perjalanan dua hari penuh dengan kapal. Waktu kami tidak banyak karena harus kembali ke Jakarta esok lusa. Mungkin suatu hari kami kesana.
Laut biru.Visibility 40 meter, Pelagics, terumbu karang indah. Siapa bisa menolak ?
Mungkin kalau dulu MacArthur suka menyelam, dia akan lebih lama tinggal di Biak.


Tips berpergian ke Biak

1. Biak dapat dikunjungi dengan pesawat Garuda, Express Air, Effata dengan lama perjalanan kurang lebih 7 jam, dengan stop over di Makasar.
2. Ada beberapa jenis hotel dan penginapan di Biak mulai dari kelas melati sampai bintang 2.
3. Dive operator yang berbasis land based hanya ada satu. Umumnya mereka memberikan harga yang kompetitif terutama terhadap tamu / wisatawan local. Negoisasi sebaiknya dilakukan sebelum melakukan kesepakatan. Harga sudah termasuk penginapan hotel termasuk transportasi, makan pagi siang dan malam.
4. Tetap dianjurkan meminum pil anti malaria, dua minggu sebelum kunjungan, setibanya disana dan setelah kembali dari Biak. Bagaimanapun daerah Papua masih rentan dengan epidemi Malaria.
5. Melakukan penyelaman dengan prosedur aman karena Biak tidak ada rumah sakit atau Chamber yang memadai.

Artikel ini dimuat dalam majalah PHOTO VIDEO ( Gramedia ) Edisi Februari 2009


Share

  1. 0
    12 February 2009 04:44:04

    zoel

    Biak = bila ingat akan kembali, emang bener2 indah. saya sudah beberapa kali melakukan dive disana dan sesuai bener ama artikel diatas memang indah dunia bawah lautnya. yg belum kesampain dive di kep padaido timur (daerah yg belum terjamah para pebom ikan) dan mavia, kalo ada teman2 yg ada rencana kesana boleh donk saya gabung

  2. 0
    12 February 2009 09:06:18

    Iis NDC

    Memang betul foto” tersebut diambil di Biak atau di kepulauan Padaido karena kami pernah mengoprerasikan Biak Diving Centre selama 5 Tahun.

    Sunggguh pemandangan yang luar biasa, sayang karena penerbangan dari Honolulu berhenti dan karena alasan situasi politik pada waktu itu sehingga kami harus kembali ke Manado.

    Hope, biak akan menjadi primadona khususnya Dive pointnya.

  3. 0
    12 February 2009 17:30:23

    Abi

    Info dari sumber yang terpercaya, pesawat Catalina itu tenggelam karena terbakar ketika sedang berlabuh. Dan terjadi setelah PD 2 selesai. So it was an accident, no casualties. Pemilik pesawat apes, tapi berkah buat diver dan marine life.

  4. 0
    13 February 2009 09:23:21

    christanto

    greats,perjalanan yang mengesankan. sekilas namun jelas.indonesia have everthing whats the diver want.

  5. 0
    6 March 2009 19:50:40

    andy sahat

    keren.. i love biak..

  6. 0
    13 March 2009 15:14:57

    agesta porwantoro

    ikan laut yang seperti pada gambar seperti pada gambar apa bila dimakan apa ya enak tho?

  7. 0
    30 March 2009 07:32:39

    byme

    wah pasti menyenangkan yah
    berpetualangan
    byme

  8. 0
    5 June 2009 16:17:51

    DOnny Irawan

    Setahu sy pesawat chatalina itu sdh tidak ada… sdh dijarah masyarakat trus hotel Marauw sdh tidak seperti itu… sudah rata dengan tanah… kenapa? Silahkan cari jawaban sendiri karena sy takut bicara nanti sama dg Ibu Prita yg malang

  9. 0
    28 June 2009 00:13:05

    Prawiranegara

    Sy baru saja pulang dari Biak, dari acara seminar Rencana Tata Ruang KAPET Biak. salah satu lokasi yg paling berkesan yg pnah sy kunjungi. setuju dengan bung Zoel di atas, BIAK (Bila Ingat Akan Kembali) namun sayang terlupakan.
    Dari kesempatan berkeliling 1 hari di sana, sedih melihat sisa kejayaan wisata Biak dulu, spt: Biak Beach Hotel di Marau yg lg dijarah sisa gedungnya dan hampir rata dgn tanah seperti bung Donny bilang di atas, Taman Burung & Anggrek yg tinggal sisanya, dan ngobrol dgn bung Eric yg bercerita bahwa Biak Diving sudah tdk beroperasi lg pdhal dulu sangat ramai yg dive.
    Yg paling berkesan perjalanan carter perahu nelayan dr Bosnik menuju Pulau Woendi buat snorkeling.The best snorkeling & diving site i’ve ever seen, atoll dan soft coralnya luas bgt, superb visibility, view ke pulau2 skitar yg indah bgt, ikannya sgt beragam, spt aquarium raksasa. boleh bersaing deh dgn tempat sebelumnya yg pnah gw liat spt; bunaken, bali, gili trawangan, ambon, ternate. Kesimpulannya i’ll be back!
    Angan2 kedepan : Biak sbg Bali ke-2 bila 3 penerbangan internasional yg sedang diupayakan terealisasi, Biak sbg Batam ke-2 di Timur bila someday Kawasan Industri+Kws Berikat+kws Pelabuhan dlm KAPET Biak jd Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)

  10. 0
    23 July 2009 08:48:21

    taufik - FDC

    tanggal 27 Juli 2009 ini kita dari Fisheries Diving Club – IPB akan mengadakan monitoring terumbukarang di sekitar kepulaan Padaido selama 8 hari. Bagi diver yang telah kesana apakah ada biota endemik di biak y?
    terimakah

  11. 0
    9 October 2009 02:27:07

    steven

    ya aku senang bget berbagi pendapat,apalagi mejelajahi bekas perjalanan perang dunia 2,
    aku tertarik dengan foto2 pesawat cataline,mungkin apa bisa di perbanyak
    koleksi foto2nya?????
    ,khusus foto2 pesawat2 perang dunia,
    aku mau pesan aja ada bangkai pesawat perang dunia ke 2 yang jatuh di pulau AHE ( di sblah pulau moor antara Hariti ) nabire,aku mau team ini datang dan mencari tahu jenis dan whay….. jatuh di pulau tersebut,karan aku lihat bekas baling2 PESAWAT YANG BESAR SKALI yang masih utuh walau bodynya masih di dalam bibir pantai pulau AHE

  12. 0
    19 November 2009 14:34:19

    Cici

    Biak emank palingg kerenn deh …

  13. 0
    16 January 2010 12:48:12

    Dominggus Rumaseb

    Saya hanya berharap PEMDA Kab.BIAK NUMFOR menjaga sisa sisa mesin perang dunia ke 2 dari tangan tangan jahat yang datang ke papua hanya untuk mencari keuntungan pribadi dan merusak ekosistem yang ada di Biak Numfor, karena semua penigalan perang dinia ke 2 adalah aset pariwisata Biak Numfor

  14. 0
    9 April 2010 19:59:39

    eva walles la"rose

    dari crita yg aku dger2,,trus dari liputan TV,n web emang sunnguh menarik ya…pengen bgd ke pulau biak…

  15. 0
    28 June 2010 17:59:46

    ekowinarno

    sy punya hobby ngerakit plastic scale model kit,khususnya pesawat terbang militer yg pernah kita punya..nah diBiak(manuhua) ada 1 monumen pesawat peninggalan belanda yg pingin saya lihat, tapi susah banget dpt photonya. Nah mudah2an yg satu ini ga dijarah spt yg laen, biar anak cucu kita bisa liat..sapa tau turispun akan datang melihatnya bila dirawat dg baik.

  16. 0
    17 July 2010 05:57:25

    helmy hakim

    saya sering k biak tapi hanya transit. setelah melihat artikel diatas sepertinya keindahan bawah laut biak wajib untuk diselami.
    untuk semua yang tau bisa tolong berikan informasi tentang dive operator dibiak lengkap dengan pricelist sewa alatnya sekalian.
    thanks

  17. 0
    19 September 2010 00:00:58

    Endro Catur

    Wow. Bagus bangeeet…
    Insya Allah bakal ke sana pertengahan Oktober 2010 ini. Mudah2an bisa nyemplung, bisa liat yang cantik2 seperti yang diliat mas Iman. Mudah2an bisa liat yang lebih cantik lagi ya.

    Salam,

    Endro

  18. 0
    30 September 2010 22:28:41

    metha

    BIAK bila ingat akan kembali….
    i2 lah biak,nantikan lah kehadiran qu biak t’cinta……..
    biak yg su plg mantap sudah………

  19. 0
    24 October 2010 13:19:30

    gema

    pace mace kenyataan yang tertulis diatas adalah benar, tetapi lebih asyik kalau kita melihatnya sendiri, apalagi dikepulauan mapia, dengan indahnya alam disana dan masih banyak hewan yang dapat kita temui, dan sangat banyak dan jinak seperti penyu dan bebek laut, untk perjalanan ke pulau mapia nggak usah ragu, setiap 2minngu sekali ada kapal penumpang ke pulau mapia.

  20. 0
    19 February 2011 04:28:02

    bunbun

    Ya saya pernah di sana..
    Suatu saat ingin kembali menikmati keindahan alam di Biak

  21. 0
    2 March 2011 23:43:51

    budisukarno

    kenangan indah akan biak yg tak terlupakan…(teringat teman dan sahabat yg sekarang entah dimana…)
    th 94-97 aku masih sering kesana.saat hotel marauw baru berdiri??
    ada meriam raksasa di pintu angin (dekat bandara),goa jepang yg dipinggir jalan (selain goa yg difoto).
    kapan yaa..ada kesempatan kesana lagi???
    biak.. sungguh aku merindukanmu!!

  22. 0
    11 June 2011 07:48:56

    Jamal

    lengkap sudah potensi wisata di biak, di darat dan di laut, tinggal bagaimana pemerintah daerah bisa mengelola dan memanfaatkan potensi tersebut dengan melibatkan masyarakat dan para stakeholder lainnya. potensi wisata yang besar berkorelasi dengan PAD. Faiman Indo. Bila Ingat Akan Kembali. Salam

  23. 0
    5 July 2011 21:02:04

    vian

    tempat kelarihan saya juga dari Biak…
    teringat waktu saya masi umur 3 tahun saya paling suka neik-naik dan bermain di bekas pesawat tempur peninggalan belanda yang berjejer didalam anggarnya yang peninggalan belanda juga.

    bagi yang mau ke biak ada satu tempat lagi ini yang mantap, tempatnya yaitu di Wari…dengan keindahan pesisir pantainya.

  24. 0
    9 March 2012 11:51:04

    erik

    aq jg kelahiran di biak aq jg teringat keindahan pantai bosnik dengan terumbu karangnya yg sangat indah

  25. 0
    10 August 2012 16:24:53

    Degiw

    Di biak itu ada tempat yg menyewakan alat diving kah? Atau minimal snorkling? hehehe. mohon infonya yg sudah kesana :)

  26. 0
    25 August 2012 17:09:08

    Erykah Black

    Hallo…aku baru saja mendarat di Jakarta setelah melakukan penerbangan dari Biak. Selama 3 hari kami diving di Biak….ke wreck catalina, cave woendi, atol mansoor babo juga mengunjungi tempat2 bersejarah di Biak seperti goa Jepang, pantai Bosnik……semoga pariwisata Biak khususnya wisata laut nya berkembang lebih meriah…..semuanya indah dan menakjubkan!

    Salam

  27. 0
    22 January 2013 00:05:42

    Hengki Wakum

    Sekarang Biakku SUNYI.
    Wisata bawah laut terdiam, banyak turis mengeluh (kata pengantar turis).

    Wahai Pejabat Dinas Pariwisata Biak, dimanakah kamu berada?
    ternyata berada di Hotel hotel mewah di Jakarta.

    saatnya akan tiba, langkah kamu akan berhenti.

    KOBEOSER….Mari saudaraku orang biak, kita ters promosi wisata kita biak numfor.

    salam

  28. 0
    3 May 2013 13:30:15

    neocutis blanche skin lightening cream reviews

    Unidentified Company Representative I thought we have skin bleaching singapore
    got that [ph]. Ling Zhi Ling Zhi is also known as gold powder or white gold powder with ‘the elixir of life’, ‘the food of the gods’ and even ‘the philosopher’s stone’. This skin bleaching singapore alone would make Nova Bay an attractive investment. She has blue eyes and blond hair.

  29. 0
    9 May 2013 11:52:37

    Dan

    Rory M Feb 5, 2013, 2:58pm UTC PS~ It seems you have fallen for the most transparent frauds in
    parapsychology. Dan E Dec 5, 2012, 6:46pm accredited nursing programs UTC Everyone should
    be scared these comments are going to stick with it!
    The difference with Obama is that he is exceptionally capable of speaking about reasonably, that’s more than a accredited nursing programs trivial indication of what’s in your head.

  30. 0
    30 June 2013 15:01:17

    Bsn Schools

    Berries and nuts will help to ensure that they do not take care of bsn programs for second degrees him.
    By the year 2015, this number is reported to be 35 million-plus worldwide.
    Therefore only those who have no business seeing
    those records. The Red Cross nursing assistant training
    programs have a set exam structure.

  31. 0
    10 October 2013 12:49:02

    fano n mako

    oh……….biak memang ko pulau yang paling mantap sudah keindahan panorama alammu sangat memikat hatiku

  32. 0
    20 February 2014 17:07:54

    Margono Djodie Saputra

    Luar biasa jadi mengingatkan kenangan lama, saya ikut pasang lift di hotel Biak Marau, luar biasa bagusnya, tapi kini tinggal kenangan ………….. Bila ingat akan kembali, malah teman akrab saya dapat istri disana orang asli srui.

Share

Related


Warning: urldecode() expects parameter 1 to be string, array given in /home/dunial67/public_html/wp-includes/query.php on line 1785

Suku Bajo Torosiaje

10 Aug 2012

Headline

Featured

Diving in Halmahera

9 Oct 2008

Muck Paradise

9 Oct 2008

Dive Site

Review

Latest

About

Dunia Laut berisi kumpulan cerita dan foto-foto tentang kekayaan alam hayati lautan Indonesia.

Blog ini dikelola oleh Iman Brotoseno, PADI Dive Instructor.

© Dunia Laut. Design by Muhammad Zamroni.