<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Dunia Laut &#124; One Earth One Ocean</title>
	<atom:link href="http://dunialaut.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dunialaut.com</link>
	<description>One Earth One Ocean</description>
	<pubDate>Thu, 27 May 2010 05:25:25 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Misool, pesona selatan Raja Ampat</title>
		<link>http://dunialaut.com/?p=582</link>
		<comments>http://dunialaut.com/?p=582#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 May 2010 05:15:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iman Brotoseno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dive Site]]></category>

		<category><![CDATA[Environment]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<category><![CDATA[dive]]></category>

		<category><![CDATA[Festival bahari Raja Ampat 2020]]></category>

		<category><![CDATA[Iman Brotoseno]]></category>

		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Misool]]></category>

		<category><![CDATA[Papua]]></category>

		<category><![CDATA[Raja ampat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dunialaut.com/?p=582</guid>
		<description><![CDATA[Untuk kesekian kalinya saya mengunjungi Raja Ampat. Kali ini diawali dengan undangan Pemkab Raja Ampat untuk menikmati ‘ Festival Bahari Raja Ampat 2010 ‘ yang dipusatkan Wasai, ibu kota Kabupaten Raja Ampat yang terletak di pulau paling besar, Waigeo.   Ini memang lebih pada kegiatan seremonial yang dibuka Bupati. Tak ada yang salah sekalian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://dunialaut.com/wp-content/uploads/2010/05/jetty1.jpg"><img src="http://dunialaut.com/wp-content/uploads/2010/05/jetty1.jpg" alt="" title="jetty1" width="350" height="233" class="alignleft size-full wp-image-583" /></a>Untuk kesekian kalinya saya mengunjungi Raja Ampat. Kali ini diawali dengan undangan Pemkab Raja Ampat untuk menikmati ‘ Festival Bahari Raja Ampat 2010 ‘ yang dipusatkan Wasai, ibu kota Kabupaten Raja Ampat yang terletak di pulau paling besar, Waigeo.   Ini memang lebih pada kegiatan seremonial yang dibuka Bupati. Tak ada yang salah sekalian menikmati acara acara hiburan, tari dan aneka ragam makanan dari suku suku yang tersebar di kepulauan Raja Ampat. </p>
<p>Ini memang bisa digambarkan sebagai mini Indonesia, karena keragaman suku, agama, dan bahasa.  Bagian selatan kepulauan yang dipengaruhi Islam dan Utara yang Kristen. Bahkan salah satu atraksi dari masyarakat setempat, ditampilkan Reog Ponorogo !  Usut punya usut ternyata banyak pendatang asal Trenggalek Jawa timur yang merantau ke Sorong dan tinggal sebagai pekerja di Pulau Waigeo.<br />
Sejak pemekaran Kepulauan Raja Ampat menjad kabupaten, Wasai dibangun dari sebuah desa kecil di hutan belantara di Pulau Waigeo.  Mau tidak mau, hutan lindung di babat untuk membelah pulau.  Ketika saya disana, jalanan lebar hot mix sedang dibangun untuk menghubungkan pelabuhan baru. Demikian pula gedung gedung pemerintahan, dan hotel hotel bermunculan.<br />
Satu yang membuat saya risau. Semoga aspek modernitas ini tidak menggerus alam dan ekosistem bahari. Bukankah ini yang membuat Raja Ampat menjadi icon bahari di Indonesia .<br />
<span id="more-582"></span><br />
<a href="http://good-times.webshots.com/photo/2322521100102872335qUsPcl"><img src="http://inlinethumb48.webshots.com/24431/2322521100102872335S500x500Q85.jpg" alt="Papua loves NKRI"></a><br />
Dari Wasai kami melanjutkan perjalanan yang sesungguhnya menuju Misool, sebuah pulau besar dengan beberapa pulau pulau kecil yang berserakan di sekelilingnya. Kepulauan Raja Ampat terletak di barat laut kepala burung Pulau Papua, dengan kurang lebih 1500 pulau kecil dan atoll serta 4 pulau besar yang utama, yakni Misol, Salawati, Bantata dan Waigeo.  Luas area ini kurang lebih 4 juta hektar persegi darat dan lautan  - termasuk sebagian teluk Cendrawasih - membuatnya sebagai taman laut terbesar di Indonesia.<br />
Kehidupan hayati dan biota laut Raja Ampat paling kaya dan beranekaragam dari seluruh area taman laut   di wilayah segitiga koral dunia, Philipina – Indonesia – Papua Nuigini. Segitiga coral ini merupakan jantung kekayaan terumbu karang dunia yang dilindungi dan ditetapkan berdasarkan konservasi perlindungan alam Internasional.<br />
<a href="http://good-times.webshots.com/photo/2983436420102872335oLTfYs"><img src="http://inlinethumb57.webshots.com/35256/2983436420102872335S500x500Q85.jpg" alt="jetty"></a><br />
Kami tak mencapai Pulau Misol, karena perjalanan yang di tempuh dengan mesin boat 2 kali 450 PK berakhir di sebuah pulau kecil bernama Batbitim. Disini “ Eco Resort “ membangun surganya bagi pencinta selam. Sebuah resor yang dibangun dan dikelola dengan memegang prinsip prinsip konservasi alam yang ketat.<br />
Pulau kecil ini sangat indah, dengan bukit dan laguna pasir putihnya membentang di depan cotagges cottages yang seakan membius dengan pesona alamnya. Sebuah jembatan kayu menghubungkan antara dermaga, dengan dive centre dan sisi cottages sebelah depan dengan restaurant tepat di tengah pulau.  Dari sana ada jalan mengarah atas bukit untuk menuju sisi cotagges di balik pulau.</p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2214704800102872335XXUrcx"><img src="http://inlinethumb45.webshots.com/47212/2214704800102872335S500x500Q85.jpg" alt="puncak bukit eco"></a>Resor yang dikelola oleh pasangan dari Inggris ini memang menakjubkan. Disain struktur bangunan menggunakan bahan ( termasuk kayu ) yang ramah lingkungan dan menekan sedikit mungkin kerusakan alam.  Butuh waktu 2 tahun untuk membangun, karena mereka konsisten memakai kayu kayu yang bukan dari hasil tebangan.  Mereka membeli kayu dari pohon pohon yang rubuh atau mengumpulkan dari yang hanyut di laut lepas.<br />
Pemakaian sabun yang mengandung antiseptik di haramkan selama berada di Misool Eco Resort.  Ini karena limbah buangannya bisa membunuh kehidupan terumbu karang di sekitarnya. Mereka juga tidak menyediakan ikan ikan karang seperti kerapu kepada tamu tamunya karena tergolong ikan ikan langka.<br />
Salah satu bentuk protes lainnya adalah tidak menghidangkan udang karena mengganggap pembibitan budidaya udang di Indonesia dilakukan dengan membabat hutan bakau.</p>
<p>Selain itu Misool Eco Resort melakukan kesepakatan dengan penduduk adat di sekitarnya untuk menjaga ekosistem terpadu yang disebut <em>No Take Zone.</em> Mereka menyewa wilayah seluas 425 km persegi di sekitar pulau Batbitim untuk melarang eksploatasi pengambilan apapun dari laut, termasuk memancing ikan, berburu kerang, telur penyu, sirip ikan hiu dan lain lain.<br />
Patroli yang disebut Ranger Patrol secara rutin berputar menjaga dengan kapal boat di wilayah yang luas itu.<br />
Barangkali yang membuat resor ini berbeda adalah, bagaimana melibatkan penduduk adat sekitarnya untuk mendapatkan keuntungan dari pengelolaan resort. Sebagian besar pegawai berasal dari kampung Yellu, pulau terdekat. Menaikan taraf hidup dan pemasukan mereka tanpa harus merusak alam.  </p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2237338760102872335cHJqsP"><img src="http://inlinethumb22.webshots.com/85/2237338760102872335S500x500Q85.jpg" alt="jack1"></a>Ada sekitar 60 dive site di sekitar Misool Eco Resort yang umumnya bisa dicapai antara 10 menit sampai 1 jam dari dermaga. Termasuk <em>Fiabacet, Boo, Magic Mountain, Yilliet</em>, and <em>Gorgonian Passage </em>yang luar biasa indahnya.  Ini diluar beberapa tempat yang masih dieksplorasi lagi.<br />
Bahkan di bawah dermaga resort, begitu banyak ikan ikan, batfish, black / white tips shark yang masih kecil sampai sweetlips dan sniper. Yang paling utama kita bisa melihat atraksi school of jack – seperti di tulamben, Bali – yang selalu berada di sana. Berputar meliuk liuk mengucapkan selamat datang kepada para tamu. Tak bosan bosannya saya melakukan penyelaman di sini, karena penyelaman di dermaga bebas , di luar paket menyelam keluar pulau.</p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2072889080102872335aflyEN"><img src="http://inlinethumb45.webshots.com/19948/2072889080102872335S500x500Q85.jpg" alt="jack2"></a>Memang karakteristik penyelaman di seputar Misool agak berbeda dengan daerah utara seperti di Kri misalnya.  Disini – walau ada – tetapi tak mudah menemukan mahluk kecil untuk macro photography. Umumnya memang obyek obyek wide shoot photography.  Terumbu karang yang terhampar bagai permadani dan hutan sea fans di sana sini.  Tentu saja dengan jumlah ikan ikan beraneka ragam yang begitu banyak.<br />
Ini memang konskuensi dari kehidupan terumbu karang yang relatif sehat dan subur, seperti adagium <em>No Corals life No fish</em>. Ya, terumbu karang adalah rumah bagi hayati bawah laut.  Sumber plankton bagi makanan ikan. Jika mereka dihancurkan, sudah semestinya tak ada ikan yang tinggal di sana.</p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2289481050102872335pnVSBS"><img src="http://inlinethumb26.webshots.com/39449/2289481050102872335S500x500Q85.jpg" alt="lagoon senja"></a>Tak terasa hampir seminggu saya berada di Raja Ampat.  Tak ada pesona bawah laut seindah di sini. No questions.  Tak mungkin kita bisa menjelajahi seluruh wilayah dalam satu kali kunjungan. Wilayah ini terlalu luas dan masih menyimpan titik titik penyelaman yang belum di eksplorasi.<br />
Menjelang malam terakhir, kami berenang renang di laguna yang jernih airnya dengan ditemani Batfish yag dengan jinak berputar putar di sekeliling kami. Mungkin ini semacam salam perpisahan. Mungkin ia terus berharap bahwa tidak ada yang akan berubah di Misool sampai akhir jaman. Kehidupan ini terlalu berharga untuk dihancurkan dengan alasan modernisasi.<br />
Sambil ditemani seorang teman, saya masih mengepak barang barang di dive centre dengan angin laut yang sepoi sepoi  membelai mesra wajah saya. Semua teman teman sudah lelap di kamarnya masing masing karena kami sudah harus berangkat subuh subuh untuk mengejar pesawat Merpati yang membawa pulang ke peradaban di Jakarta.</p>
<p>Rupanya sang teman tak rela meninggalkan tempat ini. Ia membuat janji dengan kekasih wanitanya untuk menikmati malam terakhir di depan laguna.  Lama menunggu sampai larut malam, si kekasih tak muncul sehingga ia kembali ke kamarnya di sisi pulau.  Ketika saya hendak bergegas, si wanita baru muncul. Rupanya ia tertidur, dan wajahnya cemas mencari cari kekasihnya yang telah pergi karena lama menunggu. Ah, Misool memang begitu mempesona, sehingga mereka yang dimabuk cintapun enggan melupakan kenangan ini.<br />
Tentu saja, saya akan kembali ke sini. Someday. Somehow.</p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2476636430102872335gjTZcH"><img src="http://inlinethumb44.webshots.com/46891/2476636430102872335S500x500Q85.jpg" alt="ocha1"></a><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2192047740102872335ePOnzm"><img src="http://inlinethumb50.webshots.com/5809/2192047740102872335S500x500Q85.jpg" alt="batfish"></a></p>
<p><object width="640" height="385"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/XHkyEpWYQJA&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/XHkyEpWYQJA&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="640" height="385"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dunialaut.com/?feed=rss2&amp;p=582</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Lamalera</title>
		<link>http://dunialaut.com/?p=574</link>
		<comments>http://dunialaut.com/?p=574#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 02:33:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iman Brotoseno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<category><![CDATA[Flores]]></category>

		<category><![CDATA[lamalera]]></category>

		<category><![CDATA[Lembata]]></category>

		<category><![CDATA[lewoleba]]></category>

		<category><![CDATA[paus]]></category>

		<category><![CDATA[perburuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dunialaut.com/?p=574</guid>
		<description><![CDATA[Pesawat perintis baling baling ATR yang membawa kami dari Kupang, berputar sebentar di atas pulau Lembata, sebelum turun di bandara  Wunopito , yang terletak tepat di tepi pantai.  Saya kira, kami adalah satu satunya penerbangan yang datang dan pergi ke Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur.  Suasana lapangan terbang sangat sepi, dan hiruk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://dunialaut.com/wp-content/uploads/2010/04/lamalera27a.jpg"><img src="http://dunialaut.com/wp-content/uploads/2010/04/lamalera27a-300x128.jpg" alt="" title="lamalera27a" width="300" height="128" class="alignleft size-medium wp-image-575" /></a>Pesawat perintis baling baling ATR yang membawa kami dari Kupang, berputar sebentar di atas pulau Lembata, sebelum turun di bandara  <em>Wunopito</em> , yang terletak tepat di tepi pantai.  Saya kira, kami adalah satu satunya penerbangan yang datang dan pergi ke Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur.  Suasana lapangan terbang sangat sepi, dan hiruk pikuk keramaian mendadak sirna begitu kami dan penumpang lainnya meninggalkan bandara ini.<br />
Dengan menyewa Truk Mitsubishi T 120 yang dimodifikasi bagian belakangnya untuk tempat duduk penumpang, kami menuju ibukota Kabupaten yakni<em> Lewoleba</em>.  Perjalanan menuju Lamalera belum dimulai. Truk masih harus mengisi bahan bakar.<br />
Apa yang saya baca di beberapa referensi dan majalah sebelumnya ternyata benar. Perjalanan menuju desa nelayan itu sangat jauh. Melewati pegunungan di tengah Pulau. Lamalera memang terletak di sisi balik Lewoleba.<br />
Hutan, jurang , perkebunan jagung , belukar menjadi pemandangan dikiri kanan. Truk harus perlahan berjalan terombang ambing karena jalanan buruk yang kadang hanya tanah keras dan batu batuan.  Untung saat ini bukan dalam musim hujan.<br />
<span id="more-574"></span><br />
Kadang kami melewati beberapa desa dengan jalanan aspal, sebelum kembali memasuki jalanan buruk. Setelah hampir 4 jam, truk tiba di Lamalera.  Desa Nelayan yang hanya dihuni sekitar 3000 orang ini terletak di sebuah teluk di lereng kaki bukit yang menjorok ke laut.<br />
“ Baleo , Baleo “ demikian suara teriakan warga ketika melihat ikan paus di laut lepas. Suara bersambung bersahut sahutan. Anak anak kecil dan warga berlarian ke pantai. Sementara para awak paledang – kapal pemburu paus – bergegas mengeluarkan kapalnya dari garasi beratap jerami tepat di bibir pantai. </p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2136124680102872335tPOhQW"><img src="http://inlinethumb53.webshots.com/16628/2136124680102872335S500x500Q85.jpg" alt="lamalera 7"></a>Tradisi menangkap ikan paus bagi warga Lamalera sudah turun temurun sejak ratusan tahun lalu.  Selain paus mereka juga memburu ikan pari , manta dan lumba lumba. Ketika bangsa portugis datang menyebarkan agama Katolik, tradisi ini sudah dijumpai disana.  Perburuan ikan paus disana bukan merupakan industri dan hanya untuk konsumsi sehari hari. Jadi jika sudah cukup, mereka tidak akan memburu paus yang lewat.<br />
Kegiatan mereka dikategorikan <em>aboriginal whaling</em>, seperti suku suku Eskimo atau beberapa suku Indian Kanada atau Russia. Bahkan disini lebih primitif karena tidak menggunakan boat atau senapan harpun.<br />
Paus yang diburu hanya jenis <em>sperm whale</em> yang panjangnya berkisar 12 - 20 meter dan sering muncul di perairan Lembata.</p>
<p>Umumnya sepanjang tahun mereka bisa saja berburu, seperti ketika kami datang akhir maret, mereka baru saja menangkap seekor paus beberapa hari yang lalu. Sehingga sisa sisa daging fillet yang dijemur masih ditemui sepanjang pantai. Namun secara resmi musim berburu dimulai dengan ritual pada tanggal 1 Mei, dimana para tetua adat melakukan upacara di gunung gunung dan melakukan arak arakan menuju desa nelayan Lamalera. Babi dipotong untuk melengkapi pesta ini.<br />
Pada tanggal 2 Mei dilakukan misa arwah di kapel Santo Petrus yang mungil di tepi pantai.  Pastor mendoakan arwah arwah Lamafa - para pemburu paus yang tewas dari jaman dulu. Nama nama sanak saudara disebutkan , bahkan mereka yang tewas sejak seratus tahun yang lalu.<br />
<a href="http://good-times.webshots.com/photo/2272837080102872335dONlnP"><img src="http://inlinethumb64.webshots.com/1215/2272837080102872335S500x500Q85.jpg" alt="lamalera2"></a><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2981841990102872335seJZFV"><img src="http://inlinethumb41.webshots.com/47528/2981841990102872335S500x500Q85.jpg" alt="lamalera4"></a><br />
Isak tangis memenuhi atmosphere malam misa kudus. Kenangan akan ayah, paman, kakak, atau adik mereka yang meninggal dunia.<br />
Pastur juga memberkati kapal <em>paledang dan Johnson</em>, yang akan digunakan dalam perburuan. Paledang adalah kapal yang digunakan untuk mengejar paus, berisi 12 – 14 awak pendayung, 1 orang juru tikam – Lamafa – dan 1 orang pemandu.<br />
Sedangkan Johnson berupa kapal berukuran lebih kecil, dengan mesin boat. Karena dulu banyak menggunakan mesin bermerk ‘ Johnson ‘ maka hingga kini tetap di sebut Johnson, walau mesin tempel yang dipakai bermerk ‘ Yanmar ‘ atau merk lain.<br />
Johnson biasanya digunakan sebagai kapal yang membayang bayangi Paledang dari kejauhan. Bisa menjadi kapal emergency jika terjadi sesuatu dengan paledang.  Kapal Johnson tidak mendekati paus.</p>
<p>Setelah misa, para penduduk membuat kapal kapal miniatur yang diisi oleh lilin kemudian di larung ke laut lepas. Suasana benar mengharukan ketika Pastur berjalan ketepi pantai bersama para warga.  Beberapa merapal doa doa sambil  menatap lilin lilin yang terombang ambing gelombang sampai di kejauhan.</p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2737287170102872335wxvIZC"><img src="http://inlinethumb19.webshots.com/32850/2737287170102872335S500x500Q85.jpg" alt="Pemburu Paus copyA"></a>Perburuan paus di Lamalera memakai sistem giliran, setiap waktu berganti ganti paledang yang melaut.  Ada sekitar 15 marga / keluarga di Lamalera yang masing masing memiliki Paledang yang diberi nama sendiri sendiri.<br />
Hari ini jatah diberikan kepada Paledang “ Karunia Ilahi “<br />
Para awak kapal mendayung sekuat tenaga menuju sasaran sambil menyanyikan Hilibe , teriakan pembakar semangat.<br />
Juru pandu atau asisten Lamafa memberi aba aba kepada lamafa untuk bersiap siap dengan tombaknya.  Untuk berburu ikan paus menggunakan tombak yang berbeda dengan yang digunakan untuk ikan pari atau manta.</p>
<p>Pertempuran laut adalah perjuangan hidup dan mati.  Juru tikam atau Lamafa meloncat dengan mengenggam erat tombak yang terhunus. Dengan segenap daya dan kekuatan ia menghujamkan tombak di ikan paus.<br />
Hewan yang kesakitan ini akan meronta dan mengibaskan ekornya.  Banyak kasus kematian misalnya Lamafa tertimpa hempasan ekor paus yang berat, atau dia terbelit tali yang menempel di tombak dan dibawa paus ke dasar laut.<br />
Jika paus mengamuk bisa membalikan paledang dan seluruh isi kapalnya.</p>
<p>Setelah menancapkan tombak, lamafa akan berenang menuju paledang dan mengambil tombak lainnya. Ia kembali melompat dan menancapkan ke punggung paus.   Selanjutnya perjuangan antara Paus yang meronta ronta dengan Paledang yang menahannya.  Jika dibutuhkan, dan paus terlalu kuat, maka paledang paledang lain akan datang membantu.<br />
Begitu paus menyerah maka seluruh awak kapal berteriak ‘ Hirkae ‘ dan paus ditarik ke pantai.  Selama perjalanan menuju pantai , Lamafa terus menghujamkan pisau atau parangnya ke badan paus yang tergeret di sisi kapal. Ini untuk membuat paus cepat mati karena kehabisan darah.  Cairan merah muda memenuhi laut yang biru pekat.<br />
Memang terlihat kejam. Tapi mereka para nelayan Lamalera membutuhkan untuk hidup.  Hari ini Saul, sang Lamafa mengenakan kalung rosario – kalung suci salib bagai lambang penghormatan terhadap Bunda Maria – yang dipercaya akan melindunginya dalam tugasnya.</p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2118292800102872335tMudKr"><img src="http://inlinethumb16.webshots.com/47311/2118292800102872335S500x500Q85.jpg" alt="lamalera3"></a>Daging paus memiliki nilai yang tinggi bagi masyarakat Lamalera.  Ada sistem sosial yang dipatuhi oleh seluruh masyarakat,bahwa daging paus harus di bagi ke seluruh penduduk desa.  Jadi tidak hanya mereka yang menangkapnya.<br />
Pola pembagiannya adalah. Ikan dibagi menjadi 3 potongan besar, yang akan menjadi jatah tuan tanah, awak perahu dan suku pemilik perahu.<br />
Tuan tanah adalah sesepuh , tetua adat dan penduduk asli Lamalera mendapat jatah kepala ikan. Sisanya perut dan ekor untuk golongan lainnya.  Tahap selanjutnya masing masing potongan dibagi lagi sesuai kontribusi dan peran masing masing orang dalam proses perburuan. Setelah itu ,mereka lalu akan membaginya kepada sanak saudara atau tetangga disebelah rumahnya tanpa kecuali.<br />
Selain daging, masyarakat Lamalera memanfaatkan minyak paus untuk bahan bakar lampu. Mengingat listrik masih menjadi sesuatu yang langka di desa ini.  Umumnya listrik menyala setelah jam 6 sore, itupun terbatas.<br />
Di atas pegunungan ada desa yang  dinamakan <em>Wulandoni</em>, disana setiap hari Sabtu sering dilakukan pasar barter.  Banyak pendatang membawa barang barang seperti jagung, pisang sampai bahan bahan kebutuhan rumah tangga yang ditukarkan dengan daging paus. </p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2808868200102872335VYPcrb"><img src="http://inlinethumb04.webshots.com/45187/2808868200102872335S500x500Q85.jpg" alt="lamalera6"></a>Masyarakat Lamalera percaya dengan lautan yang menjaganya. Mereka menganggap sakral perburuan ini. Mereka menghormati teluk yang terhampar di depannya. Pembuatan kapal paledang juga harus memenuhi persyaratan tertentu. Seperti jenis kayu yang dipakai, dan pantangan menggunakan paku untuk merapatkan antar bagian.<br />
Sebagai pencinta laut dan isinya, saya memang tidak tega melihat ‘ pembantaian ‘ disini.  Saya sempat melihat seekor lumba lumba tertangkap dan saya menolak melihat atau memotretnya dipotong potong di pantai.<br />
Kami tahu ini tradisi yang membuat mereka bisa bertahan hidup selama ratusan tahun, bahkan lebih. Kita harus menghormati pilihan mereka, karena perburuan ini hanya untuk hidup, bukan industri.</p>
<p>Sampai hari terakhir kami di Lamalera, kami melihat tradisi yang selalu terjaga. Anak anak kecil berebutan memakan mentah mentah mata ikan terbang yang biasa ditangkap nelayan.  Katanya ini akan membuat mata mereka tajam, yang berguna untuk melihat ikan paus dikejauhan.<br />
Sebuah cita cita menjadi <em>lamafa </em>sejak usia anak anak. Untuk menjadi pemburu paus sejati yang tidak pernah takut. Tidak juga kepada laut atau paus, Seperti yang tertulis di dinding ruang tamu milik  Bapak Abel Bading, pemilik kios ‘ Felmina’ .<br />
“ Setinggi langit di atas bumi, besarnya kasih setiaNya kepada orang orang yang takut akan Dia “</p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2107281430102872335UuApWQ"><img src="http://inlinethumb18.webshots.com/46929/2107281430102872335S500x500Q85.jpg" alt="lamalera 8"></a><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2201384490102872335EOcilW"><img src="http://inlinethumb58.webshots.com/16057/2201384490102872335S500x500Q85.jpg" alt="lamalera 11"></a><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2958541510102872335zHfEYG"><img src="http://inlinethumb15.webshots.com/5774/2958541510102872335S500x500Q85.jpg" alt="lamalera1"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dunialaut.com/?feed=rss2&amp;p=574</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kakaban - Pulau Atol</title>
		<link>http://dunialaut.com/?p=565</link>
		<comments>http://dunialaut.com/?p=565#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Jan 2010 11:50:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iman Brotoseno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dive Site]]></category>

		<category><![CDATA[Environment]]></category>

		<category><![CDATA[Diving]]></category>

		<category><![CDATA[Indonesia Marine]]></category>

		<category><![CDATA[jelly fish]]></category>

		<category><![CDATA[Kakaban]]></category>

		<category><![CDATA[Underwater]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dunialaut.com/?p=565</guid>
		<description><![CDATA[Kakaban, a low, limestone island off the coast of eastern Borneo, holds a fascinating surprise : a brackish lake literally alive with jellyfish. The lake is totally unique – a biological paradise . – Dr. Thomas Tomascik ( marine ecologist )
Pulau atoll sejenis itu hanya ada 2 di dunia. Salah satu di kepulauan Palau, Mikronesia, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://dunialaut.com/wp-content/uploads/2010/01/jelly-fish-at-kakaban2.jpg"><img src="http://dunialaut.com/wp-content/uploads/2010/01/jelly-fish-at-kakaban2.jpg" alt="" title="jelly-fish-at-kakaban2" width="350" height="305" class="alignleft size-full wp-image-567" /></a><em>Kakaban, a low, limestone island off the coast of eastern Borneo, holds a fascinating surprise : a brackish lake literally alive with jellyfish. The lake is totally unique – a biological paradise . – Dr. Thomas Tomascik ( marine ecologist )</em></p>
<p>Pulau atoll sejenis itu hanya ada 2 di dunia. Salah satu di kepulauan Palau, Mikronesia, Pacific dan satu lagi terletak 4 jam perjalanan dengan speed boat selepas pantai timur laut Kalimantan di Selat Sulawesi.  Sebagaimana yang di Pasfic, Kakaban memiliki species sama, yakni jellyfish ( ubur ubur ) yang menghuni perairan laguna.  Ubur ubur ini tidak berbisa dan berjumlah jutaan.  Dengan menyelam di sana, kita hanya melihat jutaan ubur ubur melayang dengan elegan dan sama sekali tak menakutkan, karena tidak menyengat.<br />
Kakaban adalah pulau tak berpenghuni yang tercipta ribuan tahun lalu karena proses pengangkatan dasar laut,yang akhirnya membentuk sebuah laguna seluas 5 kilometer yang dikelilingi oleh tanah bebatuan atoll yang mengunci air laut yang terisolasi tersebut.<br />
<span id="more-565"></span><br />
<a href="http://good-times.webshots.com/photo/2098759960102872335ZWaUNO"><img src="http://inlinethumb09.webshots.com/44104/2098759960102872335S500x500Q85.jpg" alt="kakaban 2"></a>Pemerintah telah menetapkan pulau ini sebagai cagar alam ekologi, dan banyak peniliti dari luar negeri berdatangan untuk melakukan riset bagaimana tumbuh tumbuhan dan mahluk hidup bisa bertahan dalam sistem yang terisolasi.  Konon nutrisi terbentuk dari hasil recycle dari laguna itu sendiri, sebagai bahan makanan atau plankton bagi hewan atau mahluk yang hidu di dalamnya.<br />
Danau laguna itu tidak memiliki celah yang menghubungkan dengan laut. Namun  rembesan air laut dari dasar dan bercampur dengan air hujan membuat danau ini sedikit payau dengan kadar garam tidak sebesar air laut.  Uniknya, danau laguna ini memiliki endemic yang tidak ditemui di bagian lain dunia, kecuali di Palau, Mikronesia, Pasific.</p>
<p>Setelah menembus perjalanan sekitar setengah jam dari bibir pantai – melalui hutan – saya melihat hamparan danau laguna yang teduh. Dari atas laguna ini seperti terlihat danau pada umumnya. Tapi didalamnya merupakan ekosistem laut yang menakjubkan.  Garis laguna bertepikan akar akar bakau yang kokoh setebal lengan manusia yang bercampur dengan bunga karang dan rumput laut.<br />
Kami mulai menyelam dengan jarak pandang yang memamg tak pernah bagus, karena danau ini dikelilingi habitat mangrove.  Jarak pandang visibility berkisar 10 meter dan kedalaman laguna hanya sekitar 11 meter.<br />
Walaupun tidak ada keanekaragaman ekosistem hayati sebagaimana di laut, tetap membuat danau ini sangat unik dengan kehidupan ubur ubur yang mendominasi isi perairan.</p>
<p>Ada dua jenis ubur ubur, yakni yang hidup di perairan dalam seperti species orhizostome jelly yang lebih padat konsentratnya. Satu lagi dengan posisi seperti terbalik hampir mendominasi isi perairan.  Ada beberapa jenis species  disini, selain Ubur ubur tadi , juga ditemui ikan cardinal fish ( <em>apogon lateralis </em>) , sisanya beberapa jenis goby ( <em>exyrias puntang</em> ).</p>
<p>Menyelam di danau pulau Kakaban, memang bukan bagian dari diving rekreasi, karena tidak seindah menyelam di laut biasa. Namun, setidaknya tempat ini menawarkan sebuah tempat riset alam yang luar biasa potensial. Mudah mudahan, tidak menjadi rusak karena persinggungan dengan kehidupan masyarakat dan turis.</p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2515760000102872335txuzRy"><img src="http://inlinethumb51.webshots.com/46514/2515760000102872335S500x500Q85.jpg" alt="kakaban"></a> <a href="http://good-times.webshots.com/photo/2455108630102872335AOeXSW"><img src="http://inlinethumb08.webshots.com/44167/2455108630102872335S500x500Q85.jpg" alt="jelly fish1"></a></p>
<p>Foto Jelly fish dengan separuh bidang land by Kaufik Kanril ( http://belajardiving.com )</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dunialaut.com/?feed=rss2&amp;p=565</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Indiana Jones dari Raja Ampat</title>
		<link>http://dunialaut.com/?p=558</link>
		<comments>http://dunialaut.com/?p=558#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 11:31:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iman Brotoseno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dive Site]]></category>

		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Max Ammer]]></category>

		<category><![CDATA[Papua]]></category>

		<category><![CDATA[Pulau Kri]]></category>

		<category><![CDATA[Raja ampat]]></category>

		<category><![CDATA[Sorong]]></category>

		<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dunialaut.com/?p=558</guid>
		<description><![CDATA[Lebih sepuluh tahun yang lalu, Max Ammer datang dari sebuah negeri di Eropa di tepi Laut Utara yang dingin.  Pria kelahiran Belanda , seorang petualang , sejarawan dan pemburu benda benda peninggalan PD II, menuju Kepulauan Raja Ampat untuk mencari rongsokan jip, pesawat terbang di sepanjang kepala burung, Papua.  Bagaikan Indiana Jones tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://dunialaut.com/wp-content/uploads/2009/11/kri2.jpg"><img src="http://dunialaut.com/wp-content/uploads/2009/11/kri2.jpg" alt="" title="kri2" width="350" height="263" class="alignleft size-full wp-image-561" /></a>Lebih sepuluh tahun yang lalu, Max Ammer datang dari sebuah negeri di Eropa di tepi Laut Utara yang dingin.  Pria kelahiran Belanda , seorang petualang , sejarawan dan pemburu benda benda peninggalan PD II, menuju Kepulauan Raja Ampat untuk mencari rongsokan jip, pesawat terbang di sepanjang kepala burung, Papua.  Bagaikan Indiana Jones tak bertopi, ia berkelana dari satu titik  ke titik yang lain. Tidak banyak rongsokan tersisa. Justru ia menemukan terumbu karang - kekayaan hayati  - surga bawah laut Raja Ampat.</p>
<p>Max kemudian mengembangkan sebuah resor dengan orientasi konservasi di Pulau Kri.  Pulau ini sekitarnya berada di pusat Raja Ampat, ditempuh 2 - 3 jam dengan boat dari kota Sorong melalui Selat Dampier.  Kita bisa melihat karang karang dengan gua gua terhampar di sepanjang perjalanan. Sebuah tempat perlindungan yang digunakan tentara Jepang pada masa PD II.<br />
Arus Selat Dampier membawa kita menuju Pulau Kri dengan 2 tempat, yakni Sorido Bay Resort dan  Kri Eco Resort terletak pada sisi lain pulau ini.<br />
<span id="more-558"></span><br />
Bagi saya , Kri Eco resort selain lebih murah daripada Sorido Bay yang ditujukan untuk mereka berkantong tebal. Juga menawarkan arti sebuah petualangan bahari sesungguhnya.  Bagaikan suku suku bajo tinggal diatas laut.<br />
Rumah kayu beratap daun daun, cukup luxurius dengan tambahan kelambu di ranjangnya. Melindungi dari serangan nyamuk yang sebenarnya tak terlalu banyak.  Ketika malam tiba, kita bisa memandang langit yang penuh dengan bintang bintang serta dibuai angin laut yang bertiup.<br />
<a href="http://good-times.webshots.com/photo/2020379400102872335gAjltb"><img src="http://inlinethumb36.webshots.com/36195/2020379400102872335S500x500Q85.jpg" alt="Kri1"></a><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2424142250102872335RgbmKy"><img src="http://inlinethumb26.webshots.com/25625/2424142250102872335S500x500Q85.jpg" alt="Kri3"></a><br />
Raja Ampat berada pada berada di persimpangan jalan di mana arus samudera Pasifik dan Samudra Hindia bertemu. Tak heran kawasn ini kaya  dengan nutrisi  yang dibutuhkan ikan ikan. Arus besar ini menyapu nutrisi ke seluruh kepulauan – ada  kurang lebih 1500 pulau - yang kaya dengan habitat.  Ada dilindungi dalam teluk, tersembunyi laguna, pasir flat, dan hutan bawah lautnya.<br />
Melihat nelayan papua, memancing ikan dengan mudahnya hanya selemparan batu dari tempat kita berdiri di dekat dermaga Pulau Kri.  </p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2649576060102872335AJisdw"><img src="http://inlinethumb41.webshots.com/17320/2649576060102872335S500x500Q85.jpg" alt="Raja Ampat Grand Komodo1"></a>Anda tak akan bisa menghabiskan seluruh area penyelaman di Raja Ampat hanya dari Pulau Kri.  Kepulauan ini terlalu luas untuk dijelajahi dengan speed boat.  Eksplorasi dengan liveaboard bisa menjadi opsi lain, ketika menuju pulau pulau lain atau kawasan Misool di selatan.<br />
Max Ammer sepertinya melupakan hiruk pikuk kota besar di Belanda. Dengan bercelana jeans, ia sibuk mengawasai pekerja pekerja nya membenahi rumah rumah yang rusak. Ia juga memperbaiki mesin boat yang rusak serta menemani para tamu makan pagi di rumah dapur yang merangkap tempat makan bagi seluruh tamu dan pegawai resor.</p>
<p>Saya hanya seminggu di sini, di tempat yang tak bisa dijangkau dengan sambungan telpon seluler.  Butuh telpon satelit yang disediakan di Sorido Bay. Tapi memang tak penting. Siapa yang butuh gangguan dari peradaban jika sesungguhnya telah berada dalam ‘ peradaban ‘ yang istimewa ?<br />
Menjelang hari terakhir, Max Ammer memberi tahu, jika saya ingin melihat burung Cendrawasih. Perjalanan ini harus dilakukan pagi pagi buta, dengan speed boat menuju Pulau Gam, dimana kita meneruskan menembus hutan dan menunggu sekitar jam 7 pagi saat burung burung surgawi itu datang memamerkan bulu bulunya kepada pasangannya.</p>
<p>Melihat senja yang bertaburkan warna warni  pendar cahaya, adalah sesuatu yang biasa dilihat di pulau Kri.   Esok pagi, si Indiana Jones akan mengantar kami  kembali ke Sorong untuk meneruskan penerbangan ke Jakarta.<br />
Tiba tiba saya merasa perjalanan liburan saya terlalu cepat di sini.</p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2858348580102872335fRGyMH"><img src="http://inlinethumb02.webshots.com/44993/2858348580102872335S500x500Q85.jpg" alt="kri4"></a><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2398324360102872335pTVsec"><img src="http://inlinethumb31.webshots.com/17182/2398324360102872335S500x500Q85.jpg" alt="Raja Ampat Grand Komodo2"></a><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2154846190102872335aDwnkg"><img src="http://inlinethumb27.webshots.com/7002/2154846190102872335S500x500Q85.jpg" alt="sunset rajaampat"></a><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2219868490102872335usZbAL"><img src="http://inlinethumb29.webshots.com/45404/2219868490102872335S500x500Q85.jpg" alt="Rajaampat1"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dunialaut.com/?feed=rss2&amp;p=558</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menjangan Island</title>
		<link>http://dunialaut.com/?p=554</link>
		<comments>http://dunialaut.com/?p=554#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 14:52:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iman Brotoseno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dive Site]]></category>

		<category><![CDATA[bali]]></category>

		<category><![CDATA[Menjangan Island]]></category>

		<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<category><![CDATA[Underwater]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dunialaut.com/?p=554</guid>
		<description><![CDATA[Menjelajahi Pulau Menjangan di Utara Bali merupakan sebuah alternatif perjalanan wisata bahari yang hampir terabaikan. Mungkin karena jarak tempuhnya yang relatif jauh dari pusat turis di selatan atau timur Bali.
Kawasan ini merupakan pulau kecil tak lebih dari 180 hektare luasnya, di ujung utara Bali – dekat Gilimanuk – dan berbatasan langsung dengan Pulau Jawa.  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://dunialaut.com/wp-content/uploads/2009/10/angel-menjangan-3.jpg"><img src="http://dunialaut.com/wp-content/uploads/2009/10/angel-menjangan-3-300x199.jpg" alt="" title="angel-menjangan-3" width="300" height="199" class="alignleft size-medium wp-image-555" /></a>Menjelajahi Pulau Menjangan di Utara Bali merupakan sebuah alternatif perjalanan wisata bahari yang hampir terabaikan. Mungkin karena jarak tempuhnya yang relatif jauh dari pusat turis di selatan atau timur Bali.<br />
Kawasan ini merupakan pulau kecil tak lebih dari 180 hektare luasnya, di ujung utara Bali – dekat Gilimanuk – dan berbatasan langsung dengan Pulau Jawa.  Pada pag hari saat cuaca cerah kita bisa melihat di kejauhan gunung Bromo dan Arjuna menjulang.</p>
<p>Menjangan dapat ditempuh melalui jalur barat melewati Gilimanuk, atau jalur utara melewati Singaraja. Merupakan bagian dari Taman Nasional Bali Barat, pulau menjangan menawarkan sebuah pengalaman yang berbeda. Pantainya yang relatif bersih serta kekayaan bawah lautnya yang luar biasa.<br />
Kita akan melewati perbukitan dan hutan hutan, yang sungguh eksotik pemandangannya terutama di musim kemarau. Pohon pohon kering berjajar seolah memberikan dimensi simetris dari balik jendela mobil yang membawa kita.  Photographer Deniek Sukarya kerap memotret suasana hutan disini.<br />
<span id="more-554"></span><br />
<a href="http://good-times.webshots.com/photo/2118491810102872335XEUwYI"><img src="http://inlinethumb30.webshots.com/14429/2118491810102872335S500x500Q85.jpg" alt="Acung &#038; Turtle1"></a>Bagi pecinta kegiatan menyelam - dengan topografi wall dive - memberikan varian terumbu karang yang indah serta keanekaragaman ikan dan mahluk hayati bawah laut.  Banyak ditemukan varian gorgonian fans, overhangs dan sponges. Kadang jika beruntung kita bisa menemui Whale Shark yang melintas dari perjalanan imigrasinya dari utara menuju samudera Hindia.<br />
Jangan salah, disini juga ditemukan Pigmy Sea Horse dan Mandarin Fish yang menjadi komoditi incaran fotografer bawah laut dimana mana.</p>
<p>Sebelum mencapai Menjangan, kita bisa mampir disekitar pantai pemutaran – tetap di utara bali -  seperti Puri Jati khusus untuk memotret obyek Macro. Ini merupakan muck dive. Beberapa obyek seperti seahorse, nudibranch, scorpion fish, devil fish dan mimic octopus.<br />
Sambil istrirahat makan siang disini, tampak Petani bebek sedang menggembalakan ratusan bebek bebeknya tepat dipinggir pantai.<br />
<a href="http://good-times.webshots.com/photo/2091544350102872335FgSNRu"><img src="http://inlinethumb11.webshots.com/45194/2091544350102872335S500x500Q85.jpg" alt="Angel menjangan "></a><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2629127190102872335cxXiyW"><img src="http://inlinethumb57.webshots.com/44728/2629127190102872335S500x500Q85.jpg" alt="devil fish"></a><br />
Khusus di sekitar Menjangan ada beberapa lokasi dive site yang menarik , diantaranya Garden Eel, Pos 2 , Batcave serta sebuah reruntuhan kapal di kedalaman 30 – 60 meter.  Walaupun sudah tidak utuh lagi, namun beberapa struktur dan jangkar masih bisa terlihat sejak kedalaman 8 meter.<br />
Menjangan dapat diselami sepanjang tahun, walau waktu yang bagus sekitar bulan April sampai November . Jika beruntung visibility bisa mencapai 50 meter pada bulan baik.</p>
<p>Dinamakan menjangan, atau rusa dalam bahasa jawa, karena memang masih ditemukan rusa rusa di pulau ini. Kadang kita masih bisa melihat mereka di pinggir laut sebelum lari masuk ke dalam hutan begitu kita mendekati.<br />
Untuk mencapai pulau menjangan atau menyelam di kawasan ini, dapat ditempuh  dengan perhu jukung dari pelabuhan Lalang, teluk terima atau pelabuhan kecil milik hotel hotel yang tersebar di kawasan ini. Salah satunya Mimpi Resort, yang terletak di dalam kawasan Taman Nasional.</p>
<p>Menjangan memang mempesona. Tak bosan bosannya saya kesini.  Senja kali ini terasa beda.  Anak anak bermain bola di atas pantai yang surut.  Sebuah mata jernih terus menatap saya dari pinggir pantai. Berharap senja yang tak akan  surut ke bumi.<br />
<a href="http://good-times.webshots.com/photo/2755888020102872335dnHuZn"><img src="http://inlinethumb09.webshots.com/44104/2755888020102872335S500x500Q85.jpg" alt="petani bebek"></a><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2251984580102872335JnFbCK"><img src="http://inlinethumb62.webshots.com/44349/2251984580102872335S500x500Q85.jpg" alt="sunset menjangan1"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dunialaut.com/?feed=rss2&amp;p=554</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pigmy Sea Horse</title>
		<link>http://dunialaut.com/?p=543</link>
		<comments>http://dunialaut.com/?p=543#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 12:48:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iman Brotoseno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Faces from the ocean]]></category>

		<category><![CDATA[hippocampus]]></category>

		<category><![CDATA[pigmy sea horse]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dunialaut.com/?p=543</guid>
		<description><![CDATA[Di kedalaman lebih dari lima belas meter sampai lima puluh meter, dibalik rimbunnya sea fans, tanpa diduga ada bentuk kehidupan lain yang tak pernah terlihat secara kasat mata. Dia adalah Pigmy Seahorse. Dengan ukuran milimiter, hampir susah dibedakan dengan lingkungan sekitarnya karena sifat kamuflasenya. Warna yang hampir menyerupai ranting ranting sea fans. 
Konon  mahluk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://dunialaut.com/wp-content/uploads/2009/08/pigmy-seahorse.jpg"><img src="http://dunialaut.com/wp-content/uploads/2009/08/pigmy-seahorse.jpg" alt="" title="pigmy-seahorse" width="313" height="226" class="alignleft size-full wp-image-544" /></a>Di kedalaman lebih dari lima belas meter sampai lima puluh meter, dibalik rimbunnya sea fans, tanpa diduga ada bentuk kehidupan lain yang tak pernah terlihat secara kasat mata. Dia adalah Pigmy Seahorse. Dengan ukuran milimiter, hampir susah dibedakan dengan lingkungan sekitarnya karena sifat kamuflasenya. Warna yang hampir menyerupai ranting ranting sea fans. </p>
<p>Konon  mahluk ini ditemukan secara tidak sengaja, ketika sejumlah peneliti sedang membawa sea fans ke daratan, menemukan ada creature dibalik ranting ranting itu.<br />
Pigmy Sea horse ( hippocampus bargibanti ) merupakan atraksi yang selalu dipertunjukan para dive guide. Tersebar mulai kawasan Papua Nuigini, Indonesia, Filipina sampai Australia utara. Dikatakan Sea horse karena memang berbentuk seperti kuda laut, dan sangat kecil sehingga disebut pigmy.<br />
<span id="more-543"></span><br />
Hampir mustahi kita melihat dengan mata telanjang. Umumnya para photographer juga berjuang mati matian memotretnya. Belum jika arus agak kencang. Sehingga butuh bantuan penyelam lain atau dive guide, untuk mengindentifikasi atau memberi bantuan senter.<br />
Saya memotretnya dengan bantuan lensa makro 60mm atau 105mm dengan tambahan diopter plus 2, untuk mempertegas bentuknya.</p>
<p>Pigmy Seahorse dan sea fans merupakan kesatuan simbiosis.  Koral ini adalah rumah yang kaya dengan pangan yang dibutukan kuda laut pigmy. Berbagai macam warna dan bentuk dapat ditemukan sepanjang perairan Indonesia.<br />
Sungguh kekayaan hayati bawah laut yang mencengangkan.<br />
<a href="http://good-times.webshots.com/photo/2886955940102872335FwecFn"><img src="http://inlinethumb22.webshots.com/43477/2886955940102872335S500x500Q85.jpg" alt="pigmy"></a><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2079745370102872335tOcqeB"><img src="http://inlinethumb43.webshots.com/42858/2079745370102872335S500x500Q85.jpg" alt="pigmy seahorse1"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dunialaut.com/?feed=rss2&amp;p=543</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Selayar Selayang Pandang</title>
		<link>http://dunialaut.com/?p=530</link>
		<comments>http://dunialaut.com/?p=530#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Jul 2009 15:10:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iman Brotoseno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<category><![CDATA[dive]]></category>

		<category><![CDATA[makasar]]></category>

		<category><![CDATA[ody dive]]></category>

		<category><![CDATA[selayar]]></category>

		<category><![CDATA[wkdenytqbh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dunialaut.com/?p=530</guid>
		<description><![CDATA[Kami baru saja mendarat di Makasar malam ini. Saya dan teman teman dari Ody Dive - Michael, Kandis, Faisal dan Bayu - harus bergegas menuju hotel di seputaran bandara Hasanudin untuk beristirahat.  Esok pagi pagi kami harus kembali ke airport untuk melanjutkan penerbangan ke Pulau Selayar.  Arah selatan tenggara kota Makasar, yang ditempuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://dunialaut.com/wp-content/uploads/2009/07/pantai-selayar.jpg"><img src="http://dunialaut.com/wp-content/uploads/2009/07/pantai-selayar-300x201.jpg" alt="" title="pantai-selayar" width="300" height="201" class="alignleft size-medium wp-image-531" /></a>Kami baru saja mendarat di Makasar malam ini. Saya dan teman teman dari Ody Dive - Michael, Kandis, Faisal dan Bayu - harus bergegas menuju hotel di seputaran bandara Hasanudin untuk beristirahat.  Esok pagi pagi kami harus kembali ke airport untuk melanjutkan penerbangan ke Pulau Selayar.  Arah selatan tenggara kota Makasar, yang ditempuh kurang lebih 40 menit dengan pesawat CN 235 Merpati.<br />
Kami akan bergabung dengan Ibu Nunung, Pak Andre Rahardja dan Letping, yang akan bersama sama memenuhi undangan pemilik resor di kawasan Selayar Barat.</p>
<p>Perjalanan kali ini mungkin sekadar dikatakan check dive dikawasan Selayar Barat.  Umumnya memang area penyelaman hanya bagian pulau Selayar timur. Ini disebabkan kawasan barat sudah mengalami kerusakan yang demikian parah.<br />
Pemboman karang, ikan serta praktek praktek nelayan tradisional yang menghancurkan terumbu karang, hanya meninggalkan bekas kerusakan yang luar biasa.<br />
<span id="more-530"></span><br />
<a href="http://good-times.webshots.com/photo/2057249180102872335CSksKy"><img src="http://inlinethumb54.webshots.com/1333/2057249180102872335S500x500Q85.jpg" alt="michael 5"></a> <a href="http://good-times.webshots.com/photo/2572184640102872335imoeGP"><img src="http://inlinethumb10.webshots.com/1481/2572184640102872335S500x500Q85.jpg" alt="cast away"></a>Sepanjang penyelaman di kawasan barat, ,kami jarang menemukan ikan ikan. Kecuali hamparan pasir dan serpihan sisa sisa koral mati.  Kosong dan sepi.<br />
Bahkan di Taka Hadji, Kontur bawah airnya mengingatkan saya pada pulau Lombok. Bekas bekas pemboman yang menghancurkan hayati bawah laut.<br />
Area batu karapu dan batu luang masih menyisakan sedikit koral. Ini tampak menjadi rumah dari ikan ikan kecil disana.   Banyak soft coral dan crinoid ditemukan disana.  Pertanda kawasan  terumbu karang ini cukup subur.</p>
<p>Tak ada yang dilihat dan kecuali seekor Buterfly fish melintas, jenis long bannerfish  sendirian. Sepi dan terasing.</p>
<p>Pulau Selayar memang terbagi dua bagian.  Penduduk dan pemukiman sebagian besar  tinggal disisi barat, dan hanya sedikit di sisi timur.  Dari sisi barat menuju sisi timur kita akan melewati hutan yang sepi. Kadang kadang kita bisa meli</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dunialaut.com/?feed=rss2&amp;p=530</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Masih menarikkah Bunaken ?</title>
		<link>http://dunialaut.com/?p=524</link>
		<comments>http://dunialaut.com/?p=524#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 05:23:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iman Brotoseno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dive Site]]></category>

		<category><![CDATA[Bunaken]]></category>

		<category><![CDATA[dive indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dunialaut.com/?p=524</guid>
		<description><![CDATA[Apakah masih menarik Bunaken ? begitu pertanyaan yang kerap di tanyakan teman teman yang sudah melanglang buana ke Papua, Ambon, Wakatobi sampai Alor dan Komodo.   Bunaken seolah hanya syarat ketika seorang ditasbihkan menjadi penyelam. Wajib datang ke Manado.
Itu dulu dan ketika Bunaken masih menawarkan pesonanya. Visibility jernih, pelagics yang beraneka ragam. Kini banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://dunialaut.com/wp-content/uploads/2009/06/manado-tua.jpg"><img src="http://dunialaut.com/wp-content/uploads/2009/06/manado-tua-201x300.jpg" alt="" title="manado-tua" width="201" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-525" /></a>Apakah masih menarik Bunaken ? begitu pertanyaan yang kerap di tanyakan teman teman yang sudah melanglang buana ke Papua, Ambon, Wakatobi sampai Alor dan Komodo.   Bunaken seolah hanya syarat ketika seorang ditasbihkan menjadi penyelam. Wajib datang ke Manado.</p>
<p>Itu dulu dan ketika Bunaken masih menawarkan pesonanya. Visibility jernih, pelagics yang beraneka ragam. Kini banyak berubah.  Reklamasi pantai Manado sedikit banyak mempengaruhi.  Sampah mulai banyak dijumpai sampai Bunaken. Ada sebagian koral dan terumbu karang yang rusak. Bahkan beberapa kerang raksasa – Giant Clamp - yang dulu ada di Fukui sudah punah. Kenaikan suhu laut juga mempercepat matinya biota laut disana.</p>
<p>Semakin jarang dijumpai  Baracuda atau tuna di sana. Juga ikan Napoleon yang sempat  menjadi pemandangan rutin di kawasan depan kampung. Saat break lunch di atas kapalpun, kami bisa melihat mereka hilir mudik seliweran di bawah, seolah menunggu sisa nasi.<br />
<span id="more-524"></span><br />
Seorang teman mengatakan ia ke Menado hanya untuk berburu makro di kawasan lembeh. Selat Bitung. Pilihan ke Bunaken dilewatkan.<br />
“ Malas,..tidak ada lagi yang menarik disana “.</p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2894259140102872335vHXAyO"><img src="http://inlinethumb03.webshots.com/42882/2894259140102872335S500x500Q85.jpg" alt="likuan sponge2"></a>Saya merangkum tak salah pendapat teman itu, walau tak seluruhnya benar juga. Bunaken masih menyembulkan pesonanya.  Masih ada sisi lain yang menakjubkan. Hamparan coral  subur di Likuan masih memanjakan mata.<br />
Terus terang saya memang mengkuatirkan Bunaken. Ikan ikan yang semakin sedikit membuktikan something goin on there. Sesuatu tengah terjadi.  Tiga hari terakhir di Bunaken, tak melihat seekor pelagics , kecuali seekor penyu.</p>
<p>Polusi, ambisi manusia, reklamasi pantai membuat kawasan yang pernah menjadi surga bawah laut ini terancam keberadaannya.<br />
Siapkah anda kehilangan Bunaken ?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dunialaut.com/?feed=rss2&amp;p=524</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Peduli Terumbu Karang</title>
		<link>http://dunialaut.com/?p=520</link>
		<comments>http://dunialaut.com/?p=520#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 May 2009 04:35:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iman Brotoseno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Environment]]></category>

		<category><![CDATA[coral life]]></category>

		<category><![CDATA[CTI]]></category>

		<category><![CDATA[terumbu karang]]></category>

		<category><![CDATA[World Oceanic Conference]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dunialaut.com/?p=520</guid>
		<description><![CDATA[Terumbu karang ( Coral Reef ) merupakan salah satu pemasok sumber hayati yang luar biasa besarnya bagi kehidupan umat manusia.  Ia memiliki nilai ekonomis selain menjadi penyangga ekosistem di muka bumi ini.
Indonesia memiliki seperempat dari total luas terumbu karang di wilayah Coral Triangle yang meliputi Philipina, Malaysia, Papua Nuigini, Kepulauan Salomon, Timor Leste sampai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://dunialaut.com/wp-content/uploads/2009/05/coral-garden-1.jpg"><img src="http://dunialaut.com/wp-content/uploads/2009/05/coral-garden-1-300x199.jpg" alt="" title="coral-garden-1" width="300" height="199" class="alignleft size-medium wp-image-521" /></a>Terumbu karang ( Coral Reef ) merupakan salah satu pemasok sumber hayati yang luar biasa besarnya bagi kehidupan umat manusia.  Ia memiliki nilai ekonomis selain menjadi penyangga ekosistem di muka bumi ini.<br />
Indonesia memiliki seperempat dari total luas terumbu karang di wilayah Coral Triangle yang meliputi Philipina, Malaysia, Papua Nuigini, Kepulauan Salomon, Timor Leste sampai Australia.<br />
Kini terumbu karang dunia menghadapi ancaman kerusakan dan kepunahan yang luar biasa. </p>
<p>Diperkirakan tahun 2050 terumbu karang dunia akan punah kalau tidak dilakukan usaha nyata untuk menghentikan proses ini. Selain kenaikan suhu laut akibat perubahan iklim. Penangkapan ikan dengan bom  dan potas serta pencemaran mempercepat kerusakan ini.<br />
Ada beberapa alasan mengapa kita harus peduli dengan terumbu karang.</p>
<p><strong>Pertama</strong>, Terumbu karang menghasilkan plankton dan sumber makanan bagi ikan ikan dan mahluk laut. Ia menjadi rumah dan shelter perlindungan. Tanpa terumbu karang , maka tak ada ikan ikan. Ini berkaitan dengan nilai ekonomis manusia yang hidup dan bergantung dengan laut, seperti nelayan, usaha perikanan serta industri pariwisata.<br />
Nilai ekonomis yang dihasilkan bisa setara US $ 375 milyar dari ikan atau pariwisata.</p>
<p><strong>Kedua.</strong>  Terumbu karang menjadi sumber penelitian untuk bidang kesehatan dan obat obatan. Banyak obat obatan yang dikembangkan dari  organisme yang hidup di koral</p>
<p><strong>Ketiga.</strong> Terumbu karang atau koral menjadi penyangga ekosistem laut. Kalau kehidupan ini punah, maka biota laut juga punah yang pada akhirnya berpengaruh pada keseimbangan ekosistem.</p>
<p><strong>Keempat.</strong> Terumbu karang merupakan benteng pelindung alami dari gelombang laut dan ombak. Ini sekaligus melidungi abrasi dan pagar depan halaman kita.</p>
<p>Coral Triangle terbentang seluas 5.7 kilometer persegi, dan lebih dari 75 % koral dunia terletak di wilayah ini, selain 3000 species hidup . Tak kurang 130 juta manusia tergantung dan memetik manfaat dari Coral Triangle.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dunialaut.com/?feed=rss2&amp;p=520</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ambon Manise</title>
		<link>http://dunialaut.com/?p=514</link>
		<comments>http://dunialaut.com/?p=514#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 May 2009 17:13:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iman Brotoseno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dive Site]]></category>

		<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<category><![CDATA[ambon]]></category>

		<category><![CDATA[maluku dive]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dunialaut.com/?p=514</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa Ambon ?
Begitu banyak species dari hayati bawah laut di kawasan Maluku yang sampai sekarang para expert peneliti belum bisa memastikan jumlahnya.  Total catatan yang diketahui ada lebih dari 3000 species ikan dan ratusan jenis terumbu karang. Sebagai perbandingan, di kawasan tersehat Karibia saja, hanya memiliki 10 sampai 20 persen keanekaragaman species jika disandingkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://dunialaut.com/wp-content/uploads/2009/05/ameth-2.jpg"><img src="http://dunialaut.com/wp-content/uploads/2009/05/ameth-2-210x300.jpg" alt="" title="ameth-2" width="210" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-515" /></a><em>Mengapa Ambon ?<br />
Begitu banyak species dari hayati bawah laut di kawasan Maluku yang sampai sekarang para expert peneliti belum bisa memastikan jumlahnya.  Total catatan yang diketahui ada lebih dari 3000 species ikan dan ratusan jenis terumbu karang. Sebagai perbandingan, di kawasan tersehat Karibia saja, hanya memiliki 10 sampai 20 persen keanekaragaman species jika disandingkan dengan apa yang dimiliki Maluku.<br />
</em><br />
Sisa sisa puing bekas kerusuhan masih tampak disana sini. Bangunan terbengkalai dan reruntuhan bekas rumah terbakar menjadi pemandangan biasa dari bandara Patimura menuju pantai Latuhalat di tenggara Pulau Ambon, Maluku.<br />
Kengerian bekas kerusuhan beberapa tahun lalu meninggalkan bekas trauma yang dalam bagi warga Ambon.  Kini perlahan, industri pariwisata yang sempat terpuruk ditinggalkan pelancong, kini mulai menggeliat lagi. Termasuk wisata bahari.</p>
<p>Sejak dulu Pulau Ambon sudah terkenal dengan taman lautnya. Ini masuk akal karena topografi pulau pulau mulai dari rangkaian Halmahera di utara menyambung  ke Ambon, Buru, Seram, Banda sampai Tanimbar dan Key di ujung Laut Arafura. Belum pulau pulau kecil yang berserakan diantara pulau pulau besar tadi.<br />
<span id="more-514"></span><br />
<a href="http://good-times.webshots.com/photo/2637525680102872335gqJNqP"><img src="http://inlinethumb31.webshots.com/43230/2637525680102872335S500x500Q85.jpg" alt="ameth 4"></a>Kepulauan Maluku sudah menjadi pencaharian bangsa Eropa sejak abad pertengahan.  Armada Portugis – berbekal penunjuk jalan asal Malaka - telah mendarat di kepulauan ini tahun 1512,  untuk mencari pulau penghasil rempah rempah.<br />
Hampir tak mungkin menjelajahi seluruh Maluku dalam seminggu. Sehingga saya bersama rombongan penyelam dari Jakarta memutuskan hanya berkonsentrasi di Pulau Ambon dan beberapa pulau kecil disekitarnya.<br />
Mengapa Ambon ?</p>
<p>Begitu banyak species dari hayati bawah laut di kawasan Maluku yang sampai sekarang para expert peneliti belum bisa memastikan jumlahnya.  Total catatan yang diketahui ada lebih dari 3000 species ikan dan ratusan jenis terumbu karang. Sebagai perbandingan, di kawasan tersehat Karibia saja, hanya memiliki 10 sampai 20 persen keanekaragaman species jika disandingkan dengan apa yang dimiliki Maluku.</p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2169051420102872335EeeRQG"><img src="http://inlinethumb28.webshots.com/43995/2169051420102872335S500x500Q85.jpg" alt="napoleon"></a>Kami menginap disebuah dive centre yang dikelola oleh seorang berkebangsaan Amerika di pantai Latuhalat. Dari sini kami akan menuju titik titik penyelaman di sekitar Pulau Ambon.<br />
Dive centre ini merupakan sebuah rumah yang berada di ditengah tengah pemukiman penduduk dan tepat di depan pantai yang berpasir putih. Sungguh sebuah pemandangan yang indah.  Dive centre ini juga memberikan kontribusi  ekonomi terhadap penduduk sekitarnya dengan menjadi porter, dive guide, juru boat sampai tukang masak untuk segala keperluan kami disini.</p>
<p>Seperti pada umumnya , kepulauan di kawasan Indonesia timur yang merupakan surga wisata bahari. Ambon memiliki lebih banyak banyak pantai daripada daratannya. Ini sangat menarik bagi penjelajah selam seperti saya. Terumbu karangnya masih dalam keadaan sehat dan terawat.</p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2540851010102872335rRGtJI"><img src="http://inlinethumb37.webshots.com/44388/2540851010102872335S500x500Q85.jpg" alt="pintu kota hill2"></a>Pintu Kota adalah sebuah dive site yang paling terkenal di kawasan Pulau Ambon. Ditempuh hampir 45 menit menggunakan boat dari dive centre.  Disebut Pintu Kota karena, ada sebuah landmark berbentuk gua terowongan – menyerupai pintu -  di tebing tebing pinggir pantai.</p>
<p>Umumnya arus agak kencang disini, sehingga Nus, dive guide kami sudah wanti wanti sebelumnya agar memakai tehnik<em> straight to deep</em>. Ini disebabkan kalau para penyelam terlalu lama mengapung akan terseret arus permukaan yang cukup kencang.</p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2905722480102872335ebgWpP"><img src="http://inlinethumb42.webshots.com/35177/2905722480102872335S500x500Q85.jpg" alt="pintu kota"></a>Ini tidak salah, arus cukup kencang sehingga kami harus berusaha keras mengayuh kaki agar bisa menuju titik sasaran.  Setelah 5 menit, arus agak berkurang dan kami tiba di sebuah terowongan yang sangat luas. Saya melihat jam komputer. 25 meter dalamnya.  Secara otomatis saya merubah setting White Balance di temperatur Kalvin 5300 agar timbul unsur hangat di gambar.</p>
<p>Untuk penyelaman laut dalam, saya hampir tidak pernah menset <em>White Balance</em> di Auto. Ini disebabkan spectrum warna yang tersisa di kedalaman 20 meter kebawah, hanya tinggal biru dan kehijauan saja.  Tentu saja kamera akan menangkap warna warna ini sebagai warna dominan yang cenderung dingin.<br />
Walau hal ini bisa disiasati dengan teknik olah digital – auto level – di software komputer. Saya tetap percaya, photography yang baik selalu berasal dari basic foto yang telah kita rancang sebelumnya.</p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2032477130102872335CFpSAS"><img src="http://inlinethumb10.webshots.com/41225/2032477130102872335S500x500Q85.jpg" alt="school of fish1"></a>Topografi site di Pintu Kota ini berbentuk sebuah terowongan yang menghubungkan antara sisi luar dengan sebuah jurang dalam di ujungnya.<br />
Pameo No current No life memang terbukti.  Arus yang kencang tadi membawa plankton plankton yang digemari ikan ikan. Sekumpulan ikan ikan snapper , sweet lips sampai trigger fish meliuk liuk. Ketika saya dekati mereka berhamburan menjauh.</p>
<p>Saya mengatur bukaan f stop 14 untuk bisa mendapatkan bidang lebar di background terowongan.  Dengan lensa 10,5mm Nikon, saya juga menyetel kedua strobe dikiri kanan kamera. Full Power.  Sebuah taman bawah laut yang menakjubkan. Beberapa sea fans serta terumbu karang yang sehat menghiasai pemandangan bawah laut ini.</p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2552306170102872335bWsqes"><img src="http://inlinethumb14.webshots.com/28173/2552306170102872335S500x500Q85.jpg" alt="nia hukurila1"></a>Dari Pintu kota -  setelah surface interfal – kami menuju <em>Hukurilla Cave</em>.  Site ini dapat ditandai dengan dua buah batu karang yang mencuat di permukaan, dan membawa ke sebuah lubang yang dipenuhi oleh sponge dan terumbu karang.  Sempat terlihat segerombolan – school of tuna – ikan tuna yang kemudian menghilang di kedalaman laut.<br />
Gua bawah laut ini, tidak terlalu luas tapi membuat kesan spooky di dalamnya.  Sungguh beruntung hari ini visibility sangat jernih sehingga membuat pemotretan sangat menyenangkan.</p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2478851590102872335WuHIuK"><img src="http://inlinethumb30.webshots.com/22685/2478851590102872335S500x500Q85.jpg" alt="pantai kilang copy"></a>Kami sempat melakukan makan siang disebuah pantai yang terpencil dan bersih. <em>Pantai Kilang</em>, begitu awak kapal boat kami menyebutnya. Tak ada yang lebih nikmat makan siang dengan hidangan penutup buah kelapa yang dipetik langsung dari pohon pohon di sekeliling kami. Gratis.</p>
<p>Hari selanjutnya kami menuju pulau pulau di selatan Pulau Ambon.  Pulau Saparua, Nusa Laut, Molana di tepi laut Banda. Perjalanan ini ditempuh kira kira 2 jam perjalanan dengan boat.<br />
Di Pulau Saparua, kami terpaksa menginap di sebuah penginapan yang sangat sederhana, dengan kasur bulukan dan lampu temaram 25 watt. Ini karena satu satunya hotel di pulau ini sudah dipakai oleh rombongan turis Belanda yang datang bersamaan dengan kunjungan rombongan kami.<br />
Nusa Laut sangat terkenal terumbu karangnya yang indah. Ini merupakan taman laut yang dikelola oleh masyarakat adat setempat. </p>
<p>Kami menyempatkan bersandar di pulau Nusa Laut untuk membayar uang ijin menyelam kepada penjaga pulau.<br />
Sementara pulau Molana, tempat kami beristirahat untuk makan siang, merupakan pulau yang menawan dengan pasir putihnya yang lembut terhampar luas.  Memandang alam ini membuat kita sadar bahwa begitu indahnya negeri Indonesia ini.<br />
<a href="http://good-times.webshots.com/photo/2309420370102872335lfuEdh"><img src="http://inlinethumb26.webshots.com/22937/2309420370102872335S500x500Q85.jpg" alt="molana beach 2"></a><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2584836490102872335lXQmUw"><img src="http://inlinethumb64.webshots.com/44927/2584836490102872335S500x500Q85.jpg" alt="nudi lagiA"></a><br />
Menyelam di kawasan ini juga terdapat banyak nudibranch yang berwarna warni, sehingga pada penyelaman selanjutnya saya memutuskan mengganti lensa makro. Pilihan saya tak salah. Seekor udang jenis species periclimenes, merayap keluar bubble coral, menjadi obyek yang cukup menantang.  Udang ini memiliki karakteristik tubuh transparan – fluorecent – dan panjangnya tak lebih dari 2 cm.<br />
Ternyata ada jenis udang<em> periclemenes</em> yang berwarna merah merayap diatas sebuah hard coral. Saya sempat menangkap dengan kamera sebelum ia menghilang.<br />
<a href="http://good-times.webshots.com/photo/2635713210102872335AxNGKC"><img src="http://inlinethumb16.webshots.com/21647/2635713210102872335S500x500Q85.jpg" alt="shrimp and coral bubble"></a><br />
Menjelajahi Ambon tidak cukup hanya di bagian selatan. Masih banyak pulau puau di bagian utara yang menarik. Walau tidak sampai Pulau Seram, karena terlalu jauh.  Kami menyusuri bagian terdekat ujung pulau Seram sampai pulau Tiga. Sebuah pulau kecil yang menakjubkan.</p>
<p>Menyelam di sini seperti menyelam di pasar ikan bawah laut.  Sepanjang mata memandang, rombongan ikan, school of Triggerfish seperti kita memasuki gua yang penuh dengan kelelawar.  Selain itu dijumpai Napoleon Wrasses, yang menjadi komoditi ekspor mahal untuk konsumsi makanan laut di Hongkong.<br />
Dalam beberapa penyelaman disini, dari jauh kami juga menemukan sekelompok lumba lumba. Agak kurang beruntung saya tidak bisa mendekati untuk memotretnya karena mereka langsung menghindar.</p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2333497350102872335nKtvDQ"><img src="http://inlinethumb07.webshots.com/43846/2333497350102872335S500x500Q85.jpg" alt="nemo 1"></a>Pada faktanya Ambon memang memiliki taman laut yang indah. Hampir setiap penyelaman kami menemukan berbagai jenis sea fans, sea anemones, sponges dan berbagai macam soft dan hard corals.  Seperti sebuah site ujung utara pulau Ambon, Tanjung Setan.  Sponge raksasa yang dipenuhi dengan featherstars dalam berbagai warna mencolok.  Coral jenis sponge merupakan tempat sumber makanan bagi nudibranch, demikian pula anemones merupakan rumah rumah yang nyaman bagi ikan ikan nemo.</p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2875286330102872335ctEDvn"><img src="http://inlinethumb39.webshots.com/23334/2875286330102872335S500x500Q85.jpg" alt="scorpion laha 3"></a>Bagi pencinta makro photography. Menyelam di pelabuhan Laha, merupakan keharusan. Saya mungkin bisa membandingkan potensi muck dive – menyelam khusus untuk menemukan mahluk mahluk kecil – di Laha hampir setara dengan Selat Lembeh di Bitung, Sulawesi Utara yang terkenal di seluruh dunia sebagai surga muck dive.<br />
Sebagaimana umumnya penyelaman muck dive, yang tak pernah melebihi kedalaman 10 meter, cenderung low visibility, kotor dan tak ada terumbu karangnya. Justru disana menyimpan misteri dan keajaiban mahluk laut, little critter jarang terekspos.</p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2148864200102872335ckTDmv"><img src="http://inlinethumb57.webshots.com/42552/2148864200102872335S500x500Q85.jpg" alt="monster stone fish1"></a>Untuk penyelaman ini saya mengusung dua kamera sekaligus. Salah satunya saya titipkan dengan dive guide saya untuk membawanya.  Masing masing kamera dengan lensa makro yang berbeda, 60mm dan 105mm.<br />
Keunggulan muck dive adalah hampir tidak pernah ditemui arus kencang sebagaimana di laut lepas. Ini karena shallow dan hanya diperairan dangkal. Sehingga memberikan kesempatan kepada photografer untuk bisa melakukan eksperimen seperti bracketing atau mencoba sudut angle cahaya strobe.<br />
Disini banyak dijumpai aneka ragam scorpion fish. Berwajah seperti monster, tak begerak badannya diterpa cahaya strobe. </p>
<p>Walau ikan jenis ini tak pernah menyerang, namun kadang kala duri durinya mengandung racun yang bisa membuat badan bengkak dan panas.  Ada beberapa jenis scorpion fish yang susah diindentifikasikan karena bentuknya yang hampir mirip – camouflage – dengan karang karang dan lingkungan sekitarnya.<br />
<a href="http://good-times.webshots.com/photo/2001110660102872335VYwotU"><img src="http://inlinethumb24.webshots.com/43095/2001110660102872335S500x500Q85.jpg" alt="hairy crab"></a><br />
Sesekali terlihat moray eel melongokkan kepalanya disela sela batu dan lubang dengan mulut yang menganga menunggu mangsa. Saya tak berlama lama karena dive guide saya memberi tanda, bahwa ia menemukan seekor hairy crab – kepiting berambut – yang sangat kecil.  Memang dalam penyelaman di sebuah tempat yang asing, kita membutuhkan mata jeli penyelam local yang sudah terbiasa dengan karakteristik setempat.</p>
<p>Tak terasa hampir seminggu kami menjelajahi seluruh pulau Ambon dan beberapa pulau pulau disekitarnya.  Masih banyak pelosok di kepulauan Maluku yang masih belum kami kunjungi.<br />
Malam terakhir kami di Ambon, sambil memandang terang bulan di tepi pantai, kami bernyanyi bersama dengan para penduduk dan pegawai dive centre. Maluku memang terlalu cantik untuk diabaikan begitu saja. . Suatu saat saya pasti kembali</p>
<p><em>Waktu hujan sore-sore<br />
Kulat sambar pohon kenari<br />
Ejojaro deng mongare<br />
Mari dansa dan menari</em></p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2815224690102872335LYLpKu"><img src="http://inlinethumb47.webshots.com/20910/2815224690102872335S500x500Q85.jpg" alt="nudi red soft coral"></a><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2895568890102872335ijaTVg"><img src="http://inlinethumb40.webshots.com/41767/2895568890102872335S500x500Q85.jpg" alt="shell laha"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dunialaut.com/?feed=rss2&amp;p=514</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
