Perjalanan di Biak, Papua

“ akhir May 1944, sekitar 12.000 pasukan Sekutu dipimpin Jenderal Mac Arthur mendarat di kepulauan Schouten, kurang lebih 350 mil barat pulau Biak yang merupakan bagian dari Hindia Belanda. Armada ini merupakan bagian dari Hurricane Task Force yang akan menghadapi pertempuran sengit di pulau pulau yang diduduki tentara Jepang.
MacArthur menegaskan, ‘this marks the strategic end of the New Guinea campaign’ “

Matahari belum sepenuhnya menampakan diri, ketika pesawat Garuda yang membawa kami mendarat pukul 6 pagi di Bandara udara Frans Kasiepo, Biak, Papua. Rasa lelah setelah 7 jam terbang dari Jakarta terobati melihat hamparan biru laut dan pulau pulau indah yang terlihat terhampar dari udara. Dengan berjalan kaki kami tiba di hotel Irian yang hanya berjarak 100 meter dari gerbang Bandar udara, sementara barang barang bagasi dibawa oleh petugas dari Biak Diving yang menjemput kami. Hari ini kami bertujuh akan memulai petualangan selam di sekitar pulau Biak.

Hotel Irian, sebuah hotel bekas peninggalan jaman Belanda terlihat unik dengan arsitektur kayu ala era kolonial. Ruang Lobby, serta deretan kamar kamar di sayap kiri dan kanan, masih menggunakan konstruksi kayu yang tak berubah sejak tahun 50 an. Sementara kami menempati deretan kamar di area bawah di tepi pantai.

Kota ini memang unik, karena pernah menjadi kota perdagangan di garis depan Pulau Papua. Berbagai macam etnik ditemu disini. Bugis, Buton, Jawa, Manado, Makasar, Ambon, Madura dan tentu saja penduduk asli Papua.
Ketika Garuda Indonesia masih mempunyai penerbangan Jakarta – Los Angeles, mereka transit di Biak. Tak heran Biak ramai dan selalu sibuk. Bandara Frans Kasiepo meruupakan salah satu bandara di Indonesia yang dapat didarati pesawat besar sejenis Boeing 747. Kini semuanya mendadak sepi, sejak Garuda menghentikan penerbangan jarak jauhnya ke Amerika. Juga sebuah bekas hotel bintang 5 yang kini menjadi sarang belukar dan menyeramkan.

Sesekali turis Jepang datang untuk mengunjungi Memorial Park – taman kenangan prajurit Jepang masa PD II – yang terlihat sangat indah. Tentu saja dengan dana perawatan rutin dari Pemerintah Jepang.
Sisa sisa peninggalan bekas pendudukan tentara Jepang masih bisa dilihat seperti gua gua perlindungan dan beberapa onggokan mesin perang seperti meriam dan tank.
Salah satu yang menjadi sasaran penyelaman kami adalah wreck bekas Pesawat PBY Catalina yang tenggelam di kedalaman di lepas pantai timur pelabuhan Biak.

Setelah menempuh sekitar 15 menit dengan kapal jukung dari pantai, kami berhenti disebuah titik. Hujan deras tak menghalangi visibility yang sangat bagus saat itu. Kurang lebih 30 meter jarak pandang dalam air.

Kami harus bergegas cepat menuju kedalaman 30 meter tempat pesawat itu tergeletak utuh. Menakjubkan, sebuah melihat sebuah benda asing ditengah kesunyian dalamnya laut. Sendiri dan terasing.

PBY Catalina adalah pesawat terbang amphibi buatan Amerika yang diproduksi Consolidated Aircraft antara tahun 1930 sampai 1940. Diperlengkapi oleh bom, torpedo dan senapan mesin, pesawat ini menjadi salah satu pesawat multi-role yang paling sering digunakan selama perang dunia ke 2.
Tidak ada catatan jelas sebab pesawat ini tenggelam, namun kalau dilihat dari keutuhan seluruh body pesawat, hampir tidak mungkin jatuh karena tembakan musuh. Besar kemungkinan jatuh karena problem teknis kerusakan mesin.

Salah satu sebab pesawat ini masih relatif utuh karena letaknya yang dalam sehingga menyulitkan pedagang pedagang besi tua untuk memungutnya. Ini berbeda dengan wreck yang terletak lebih dangkal dekat pantai, umumnya tak bisa bertahan lama karena dijarah oleh manusia. Sungguh amat disayangkan karena wreck wreck bangkai kapal ini bisa menjadi terumbu karang artificial sebagai rumah ikan.
Beberapa permukaan pesawat sudah ditumbuhi oleh coral coral dan kelak kalau sudah memenuhi seluruh tubuh pesawat akan membuatnya tak terlihat sebagai pesawat utuh lagi.

Dalam pemotretan bawah air, kita selalu harus mengetahui – serta menentukan – obyek apa yang akan kita ambil. Wide angle atau makro. Karena dengan kamera DSLR yang terbungkus dengan housing kamera, kita tak bisa mengganti lensa di dalam air. Sementara jika sudah menyelam, kita tak bisa naik ke permukaan dan langsung kembali menyelam. Ini karena ada prinsip prinsip fisika dan keselamatan tubuh yang harus dipatuhi.

Menyelam sudah membutuhkan ketrampilan sendiri, apalagi ditambah dengan mengoperasikan kamera. Saya membutuhkan penyelaman berpuluh puluh kali sebelum memutuskan membawa kamera dan lensa seharga puluhan juta ke dalam air. Perhitungan yang meleset dan kecerobohan akan membuat harga kamera yang mahal menjadi sia sia.

Khusus untuk memotret bangkai pesawat ini, saya menggunakan lensa Nikon 10,5 mm dengan bantuan 2 buah strobe DS 125 dikiri kanan, sehingga bisa mendapatkan keseluruhan body pesawat. Sangat beruntung tidak ada arus sehingga memudahkan saya bermanuver. Kemudian saya memberi kode kepada buddy dive saya untuk melayang diatas ekor pesawat. Ini memberikan perspektif tentang ukuran besar pesawat dengan tubuh manusia.

Beberapa hari selanjutnya ekspedisi kami menuju ke utara, arah kepulauan Padaido. Mengagumkan bahwa visibility sangat jernih. Superb visibility. Terlebih disekitar Atol Mansoor Babu. Kami sampai kembali lagi ke tempat yang sama pada hari ketiga.
Terumbu karang di tempat ini agak berbeda dengan area lain disekitar Biak yang umumnya hancur karena pengeboman. Walau sudah berkurang, kadang kala masih ditemui metode penangkapan ikan menggunakan bom. Kerusakan terumbu karang ini menjadi problem yang sangat serius bagi ekosistem bawah laut di teluk Cendrawasih. Padahal ikan ikan dan mahluk lainnya membutuhkan terumbu karang sebagai rumah dan lingkungan hidupnya.

Disini kehidupan terumbu karang masih sangat sehat. Begitu banyak hamparan sea fans raksasa dalam susunan dinding – wall – di sekitar atoll. Selain itu banyaknya soft coral jenis leather membuat saya mencoba menggabungkan teknik pemotretan balance antara pencahayaan flash / strobe dengan cahaya matahari yang masuk dari permukaan air.

Ada sebuah teori pemotretan wide angle photo bawah air yang saya percaya. Always look up. Selalu mengarah ke atas menghadap permukaan air dalam memotret. Ini yang dimaksud, karena kemampuan cahaya strobe tak akan mampu menerangi seluruh area, sehingga dibutuhkan kombinasi antara available light dan strobe.

Ada sebuah Sea fans merah, jenis dari Melithaea yang menarik perhatian saya. Karena arus tenang, saya menyetel kamera ke manual mode, dengan ISO 400, speed 1/80 dan f stop 14. Sedang dua strobe SA 100 di kiri kanan, saya setel menggunakan TTL mode.
Sea fans juga menyediakan makanan dan rumah bagi mahluk mahluk kecil small creatures yang banyak bermukim dibalik labyrith ranting rantingnya.

 

Didekat sini ada beberapa ceruk – gua –membuat penyelaman seperti memasuki lorong yang menyeramkan. Dinding dinding terjal dan cave seperti mengesankan petualangan menuju dunia antah berantah.
Dalam pemotretan kali ini, saya tidak mengandalkan kemampuan flash / strobe. Jadi saya memakai teknis available light. Ini justru menghasilkan gambar gambar mencekam. Sang model – buddy dive saya – menjadi sosok yang terasing sendiri dalam labirin labirin ceruk gua gua bawah laut.

Kami melakukan surface interfal , sambil makan siang di Pulau owi . Seperti biasa rekan saya, Chris – wartawan Majalah Intisari – selalu menyempatkan membagi bagikan buku bacaan untuk anak anak di pulau yang kami kunjungi.

Dalam penyelaman ada prinsip prinsip yang harus dipatuhi karena berhubungan dengan keselamatan penyelam, yakni safety stop di kedalaman 5 meter. Demikian pula surface interval. Setelah penyelaman kita harus menunggu beberapa waktu, tergantung table dan profile penyelaman sebelumnya. Dalam menyelam kita menghirup oksigen dari tabung, dan sekaligus menyerap nitrogen. Sehingga kita membutuhkan waktu untuk mengeluarkan akumulasi nitrogen yang terserap itu keluar dari tubuh kita. Semakin lama atau sering kita menyelam, semakin lama pula surface interfal yang dibutuhkan.

Jika kita mengabaikan keharusan ini, berpotensi decompression sickness yang bisa mengakibatkan kelumpuhan bahkan kematian. Itulah sebabnya kita sering menjumpai penyelam penyelam tradisional yang menderita kelumpuhan karena tidak mengindahkan kaidah kaidah penyelaman.

Setelah makan siang, kami menuju ke Mark Point sebuah titik dimana arus mulai kencang. Sebagaimana prinsip prinsip yang kami yakini. No Current No Life. Jika ada arus berarti akan banyak ditemui ikan.

Ini tidak salah. Dikejauhan tampak school of Baracuda, kerumunan ikan black fin baracuda = sphyraena genie – dengan elegannya meliuk liuk di tengah arus yang deras. Sebelumnya saya sudah memperkirakan bahwa kita tak mungkin mendekati mereka sedekat mungkin, sehingga saya sudah menyiapkan lensa yang memiliki kemampuan zoom seperti Nikon 18 – 70 mm. Adrenalin saya bergejolak. Sesegera mengayuhkan kaki mendekatkan rombongan ikan ikan Baracuda tersebut. Berbahaya ? tidak juga.

Salah satu ketrampilan menyelam yang sangat dibutuhkan dalam pemotretan bawah air adalah bagaimana mengenali pola arus yang terjadi serta kemampuan buoyancy – melayang – dalam air. Ini penting sekali karena kita harus bisa mendekati obyek atau ikan ikan tanpa membuat mereka merasa terganggu. Jika kita sudah sibuk dan panik sendiri, tentu ikan ikan akan lari menjauh.
Saya membiarkan tubuh saya terseret arus – drift dive – menuju arah gerombolan ikan ikan Baracuda. Yang jelas saya begitu asyik memotret ikan ikan ini sampai tak terasa terbawa menuju laut lepas.
Begitu menyadari posisi saya yang sudah terlalu jauh, secepatnya pula saya kembali menuju dinding wall dimana buddy dive saya menunggu dengan sabar. Sekaligus cemas.

Didekat Mike Point, selain atraksi Baracuda, kami juga menemukan rombongan ikan lainnya. School of Jack. Ikan ikan kuwe hampir dikedalaman 30 meter. Tak sia sia kami menempuh perjalanan panjang dari Jakarta untuk melihat dunia bawah laut Biak yang mengagumkan.

Tak lupa saya menyempatkan berburu makro, walaupun tak banyak yang didapat diperairan sini. Dalam penyelaman di sekitar pulau Rusbas dengan lensa Nikon micro 60mm, saya mendapati porcelen crab bergerak diatas anemone. Tentu dibutuhkan kesabaran untuk menunggu saat tepat ketika dia muncul kembali.
Untuk beberapa obyek saya berkeinginan mendapatkan creatures tersebut sangat dominan dengan background gelap. Seperti seekor ikan gobby blenny diatas ranting seawids atau kuda laut. Strobe saya atur dengan kekuatan ¼ power, kamera speed 1/160 dan f stop 24.

Hari hari menyelam di Pulau Biak dan sekitarnya menawarkan sesuatu tentang keindahan alam negeri ini. Sesuatu yang terlupakan oleh manusia manusia Jakarta. Ikan ikan nemo – tomatoes clown fish – yang lincah menari nari menjadi saksi ekosistem bawah laut yang patut dijaga dan dilestarikan. Seolah berkata ‘ tolong jangan hancurkan rumah kami ‘.
Konon diperbatasan dengan Laut Pacific sana, di utara Biak, terletak kepulauan Mapia yang pemandangan bawah lautnya lebih dasyat. Sayang sangat tidak dimungkin karena harus menempuh perjalanan dua hari penuh dengan kapal. Waktu kami tidak banyak karena harus kembali ke Jakarta esok lusa. Mungkin suatu hari kami kesana.
Laut biru.Visibility 40 meter, Pelagics, terumbu karang indah. Siapa bisa menolak ?
Mungkin kalau dulu MacArthur suka menyelam, dia akan lebih lama tinggal di Biak.


Tips berpergian ke Biak

1. Biak dapat dikunjungi dengan pesawat Garuda, Express Air, Effata dengan lama perjalanan kurang lebih 7 jam, dengan stop over di Makasar.
2. Ada beberapa jenis hotel dan penginapan di Biak mulai dari kelas melati sampai bintang 2.
3. Dive operator yang berbasis land based hanya ada satu. Umumnya mereka memberikan harga yang kompetitif terutama terhadap tamu / wisatawan local. Negoisasi sebaiknya dilakukan sebelum melakukan kesepakatan. Harga sudah termasuk penginapan hotel termasuk transportasi, makan pagi siang dan malam.
4. Tetap dianjurkan meminum pil anti malaria, dua minggu sebelum kunjungan, setibanya disana dan setelah kembali dari Biak. Bagaimanapun daerah Papua masih rentan dengan epidemi Malaria.
5. Melakukan penyelaman dengan prosedur aman karena Biak tidak ada rumah sakit atau Chamber yang memadai.

Artikel ini dimuat dalam majalah PHOTO VIDEO ( Gramedia ) Edisi Februari 2009


Share

  1. 0
    16 January 2022 23:36:39

    ZakBROKY

  2. 0
    16 January 2022 23:59:51

    JimBROKY

  3. 0
  4. 0
    17 January 2022 02:30:44

    SamBROKY

  5. 0
    17 January 2022 05:01:20

    JimBROKY

  6. 0
    17 January 2022 05:35:09

    BooBROKY

  7. 0
    17 January 2022 07:46:10

    AnnaBROKY

  8. 0
    17 January 2022 08:54:08

    UgoBROKY

  9. 0
    17 January 2022 09:07:11

    JaneBROKY

  10. 0
    17 January 2022 09:39:44

    JoeBROKY

  11. 0
    17 January 2022 09:41:06

    TeoBROKY

  12. 0
    17 January 2022 13:53:20

    AnnaBROKY

  13. 0
    17 January 2022 17:02:37

    MarkBROKY

  14. 0
    17 January 2022 19:26:25

    ZakBROKY

  15. 0
    17 January 2022 20:19:14

    JimBROKY

  16. 0
    17 January 2022 21:18:02

    SamBROKY

  17. 0
    17 January 2022 23:18:47

    JimBROKY

  18. 0
  19. 0
    18 January 2022 02:58:59

    AnnaBROKY

  20. 0
    18 January 2022 03:54:34

    EvaBROKY

  21. 0
    18 January 2022 05:28:45

    JackBROKY

  22. 0
    18 January 2022 05:29:49

    LisaBROKY

  23. 0
    18 January 2022 06:04:41

    SueBROKY

  24. 0
    18 January 2022 07:13:12

    TedBROKY

  25. 0
    18 January 2022 08:53:19

    NickBROKY

  26. 0
    18 January 2022 09:14:36

    IvyBROKY

  27. 0
    18 January 2022 10:01:47

    MiaBROKY

  28. 0
    18 January 2022 10:19:37

    MarkBROKY

  29. 0
    18 January 2022 10:33:02

    IvyBROKY

  30. 0
    18 January 2022 11:56:57

    JaneBROKY

  31. 0
    18 January 2022 12:44:45

    IvyBROKY

  32. 0
    18 January 2022 13:57:28

    SamBROKY

  33. 0
    18 January 2022 14:19:17

    JimBROKY

  34. 0
    18 January 2022 16:44:45

    KimBROKY

  35. 0
    18 January 2022 16:49:36

    MaryBROKY

  36. 0
    18 January 2022 19:13:32

    MiaBROKY

  37. 0
  38. 0
    19 January 2022 23:25:48

    Getithgat

    Any contact is a step to freedom Khat

  39. 0
    20 January 2022 06:27:06

    xxx petite

    This teen is way too horny to maintain her clothing on, so enjoy her tiny tits and her slippery pussy as she gives you a tour of all her best assets. xxx small babes With her best breasts tipped with button nipples and a good looking bald pussy, this lusty redhead has all that she needs to lure loves in to fulfill all her needs.

Latest

About

Dunia Laut berisi kumpulan cerita dan foto-foto tentang kekayaan alam hayati lautan Indonesia.

Blog ini dikelola oleh Iman Brotoseno, PADI Dive Instructor.

© Dunia Laut. Design by Muhammad Zamroni.