Lamalera

Pesawat perintis baling baling ATR yang membawa kami dari Kupang, berputar sebentar di atas pulau Lembata, sebelum turun di bandara Wunopito , yang terletak tepat di tepi pantai. Saya kira, kami adalah satu satunya penerbangan yang datang dan pergi ke Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur. Suasana lapangan terbang sangat sepi, dan hiruk pikuk keramaian mendadak sirna begitu kami dan penumpang lainnya meninggalkan bandara ini.
Dengan menyewa Truk Mitsubishi T 120 yang dimodifikasi bagian belakangnya untuk tempat duduk penumpang, kami menuju ibukota Kabupaten yakni Lewoleba. Perjalanan menuju Lamalera belum dimulai. Truk masih harus mengisi bahan bakar.
Apa yang saya baca di beberapa referensi dan majalah sebelumnya ternyata benar. Perjalanan menuju desa nelayan itu sangat jauh. Melewati pegunungan di tengah Pulau. Lamalera memang terletak di sisi balik Lewoleba.
Hutan, jurang , perkebunan jagung , belukar menjadi pemandangan dikiri kanan. Truk harus perlahan berjalan terombang ambing karena jalanan buruk yang kadang hanya tanah keras dan batu batuan. Untung saat ini bukan dalam musim hujan.

Kadang kami melewati beberapa desa dengan jalanan aspal, sebelum kembali memasuki jalanan buruk. Setelah hampir 4 jam, truk tiba di Lamalera. Desa Nelayan yang hanya dihuni sekitar 3000 orang ini terletak di sebuah teluk di lereng kaki bukit yang menjorok ke laut.
“ Baleo , Baleo “ demikian suara teriakan warga ketika melihat ikan paus di laut lepas. Suara bersambung bersahut sahutan. Anak anak kecil dan warga berlarian ke pantai. Sementara para awak paledang – kapal pemburu paus – bergegas mengeluarkan kapalnya dari garasi beratap jerami tepat di bibir pantai.

Tradisi menangkap ikan paus bagi warga Lamalera sudah turun temurun sejak ratusan tahun lalu. Selain paus mereka juga memburu ikan pari , manta dan lumba lumba. Ketika bangsa portugis datang menyebarkan agama Katolik, tradisi ini sudah dijumpai disana. Perburuan ikan paus disana bukan merupakan industri dan hanya untuk konsumsi sehari hari. Jadi jika sudah cukup, mereka tidak akan memburu paus yang lewat.
Kegiatan mereka dikategorikan aboriginal whaling, seperti suku suku Eskimo atau beberapa suku Indian Kanada atau Russia. Bahkan disini lebih primitif karena tidak menggunakan boat atau senapan harpun.
Paus yang diburu hanya jenis sperm whale yang panjangnya berkisar 12 – 20 meter dan sering muncul di perairan Lembata.

Umumnya sepanjang tahun mereka bisa saja berburu, seperti ketika kami datang akhir maret, mereka baru saja menangkap seekor paus beberapa hari yang lalu. Sehingga sisa sisa daging fillet yang dijemur masih ditemui sepanjang pantai. Namun secara resmi musim berburu dimulai dengan ritual pada tanggal 1 Mei, dimana para tetua adat melakukan upacara di gunung gunung dan melakukan arak arakan menuju desa nelayan Lamalera. Babi dipotong untuk melengkapi pesta ini.
Pada tanggal 2 Mei dilakukan misa arwah di kapel Santo Petrus yang mungil di tepi pantai. Pastor mendoakan arwah arwah Lamafa – para pemburu paus yang tewas dari jaman dulu. Nama nama sanak saudara disebutkan , bahkan mereka yang tewas sejak seratus tahun yang lalu.

Isak tangis memenuhi atmosphere malam misa kudus. Kenangan akan ayah, paman, kakak, atau adik mereka yang meninggal dunia.
Pastur juga memberkati kapal paledang dan Johnson, yang akan digunakan dalam perburuan. Paledang adalah kapal yang digunakan untuk mengejar paus, berisi 12 – 14 awak pendayung, 1 orang juru tikam – Lamafa – dan 1 orang pemandu.
Sedangkan Johnson berupa kapal berukuran lebih kecil, dengan mesin boat. Karena dulu banyak menggunakan mesin bermerk ‘ Johnson ‘ maka hingga kini tetap di sebut Johnson, walau mesin tempel yang dipakai bermerk ‘ Yanmar ‘ atau merk lain.
Johnson biasanya digunakan sebagai kapal yang membayang bayangi Paledang dari kejauhan. Bisa menjadi kapal emergency jika terjadi sesuatu dengan paledang. Kapal Johnson tidak mendekati paus.

Setelah misa, para penduduk membuat kapal kapal miniatur yang diisi oleh lilin kemudian di larung ke laut lepas. Suasana benar mengharukan ketika Pastur berjalan ketepi pantai bersama para warga. Beberapa merapal doa doa sambil menatap lilin lilin yang terombang ambing gelombang sampai di kejauhan.

Perburuan paus di Lamalera memakai sistem giliran, setiap waktu berganti ganti paledang yang melaut. Ada sekitar 15 marga / keluarga di Lamalera yang masing masing memiliki Paledang yang diberi nama sendiri sendiri.
Hari ini jatah diberikan kepada Paledang “ Karunia Ilahi “
Para awak kapal mendayung sekuat tenaga menuju sasaran sambil menyanyikan Hilibe , teriakan pembakar semangat.
Juru pandu atau asisten Lamafa memberi aba aba kepada lamafa untuk bersiap siap dengan tombaknya. Untuk berburu ikan paus menggunakan tombak yang berbeda dengan yang digunakan untuk ikan pari atau manta.

Pertempuran laut adalah perjuangan hidup dan mati. Juru tikam atau Lamafa meloncat dengan mengenggam erat tombak yang terhunus. Dengan segenap daya dan kekuatan ia menghujamkan tombak di ikan paus.
Hewan yang kesakitan ini akan meronta dan mengibaskan ekornya. Banyak kasus kematian misalnya Lamafa tertimpa hempasan ekor paus yang berat, atau dia terbelit tali yang menempel di tombak dan dibawa paus ke dasar laut.
Jika paus mengamuk bisa membalikan paledang dan seluruh isi kapalnya.

Setelah menancapkan tombak, lamafa akan berenang menuju paledang dan mengambil tombak lainnya. Ia kembali melompat dan menancapkan ke punggung paus. Selanjutnya perjuangan antara Paus yang meronta ronta dengan Paledang yang menahannya. Jika dibutuhkan, dan paus terlalu kuat, maka paledang paledang lain akan datang membantu.
Begitu paus menyerah maka seluruh awak kapal berteriak ‘ Hirkae ‘ dan paus ditarik ke pantai. Selama perjalanan menuju pantai , Lamafa terus menghujamkan pisau atau parangnya ke badan paus yang tergeret di sisi kapal. Ini untuk membuat paus cepat mati karena kehabisan darah. Cairan merah muda memenuhi laut yang biru pekat.
Memang terlihat kejam. Tapi mereka para nelayan Lamalera membutuhkan untuk hidup. Hari ini Saul, sang Lamafa mengenakan kalung rosario – kalung suci salib bagai lambang penghormatan terhadap Bunda Maria – yang dipercaya akan melindunginya dalam tugasnya.

Daging paus memiliki nilai yang tinggi bagi masyarakat Lamalera. Ada sistem sosial yang dipatuhi oleh seluruh masyarakat,bahwa daging paus harus di bagi ke seluruh penduduk desa. Jadi tidak hanya mereka yang menangkapnya.
Pola pembagiannya adalah. Ikan dibagi menjadi 3 potongan besar, yang akan menjadi jatah tuan tanah, awak perahu dan suku pemilik perahu.
Tuan tanah adalah sesepuh , tetua adat dan penduduk asli Lamalera mendapat jatah kepala ikan. Sisanya perut dan ekor untuk golongan lainnya. Tahap selanjutnya masing masing potongan dibagi lagi sesuai kontribusi dan peran masing masing orang dalam proses perburuan. Setelah itu ,mereka lalu akan membaginya kepada sanak saudara atau tetangga disebelah rumahnya tanpa kecuali.
Selain daging, masyarakat Lamalera memanfaatkan minyak paus untuk bahan bakar lampu. Mengingat listrik masih menjadi sesuatu yang langka di desa ini. Umumnya listrik menyala setelah jam 6 sore, itupun terbatas.
Di atas pegunungan ada desa yang dinamakan Wulandoni, disana setiap hari Sabtu sering dilakukan pasar barter. Banyak pendatang membawa barang barang seperti jagung, pisang sampai bahan bahan kebutuhan rumah tangga yang ditukarkan dengan daging paus.

Masyarakat Lamalera percaya dengan lautan yang menjaganya. Mereka menganggap sakral perburuan ini. Mereka menghormati teluk yang terhampar di depannya. Pembuatan kapal paledang juga harus memenuhi persyaratan tertentu. Seperti jenis kayu yang dipakai, dan pantangan menggunakan paku untuk merapatkan antar bagian.
Sebagai pencinta laut dan isinya, saya memang tidak tega melihat ‘ pembantaian ‘ disini. Saya sempat melihat seekor lumba lumba tertangkap dan saya menolak melihat atau memotretnya dipotong potong di pantai.
Kami tahu ini tradisi yang membuat mereka bisa bertahan hidup selama ratusan tahun, bahkan lebih. Kita harus menghormati pilihan mereka, karena perburuan ini hanya untuk hidup, bukan industri.

Sampai hari terakhir kami di Lamalera, kami melihat tradisi yang selalu terjaga. Anak anak kecil berebutan memakan mentah mentah mata ikan terbang yang biasa ditangkap nelayan. Katanya ini akan membuat mata mereka tajam, yang berguna untuk melihat ikan paus dikejauhan.
Sebuah cita cita menjadi lamafa sejak usia anak anak. Untuk menjadi pemburu paus sejati yang tidak pernah takut. Tidak juga kepada laut atau paus, Seperti yang tertulis di dinding ruang tamu milik Bapak Abel Bading, pemilik kios ‘ Felmina’ .
“ Setinggi langit di atas bumi, besarnya kasih setiaNya kepada orang orang yang takut akan Dia “

Share

  1. 0
    5 April 2010 09:50:55

    antyo rentjoko

    Wow! Perjalanan yang membuat iri. Orang-orang itu alangkah gagah beraninya. Bravo Bung Iman!

  2. 0
    5 April 2010 11:30:45

    meong

    memburu lumba2? sailor’s best friend? :'(

    *jd inget pas belanja kmrn, beli tuna kalengan, ada label ‘dolphin friendly’

    taruhan, pst lbh banyak turis asing yg tertarik utk datang ke sini drpd turis lokal 😛

  3. 0
    5 April 2010 11:31:22

    goop

    bahkan semenjak kecil sudah diajari agar ‘awas’ melihat paus…
    hebat betul perjalanannya 😀

  4. 0
    27 January 2016 16:54:34

    jhost dasilva

    masih banyak yang belum di ketahui dari desa lamalera

Latest

About

Dunia Laut berisi kumpulan cerita dan foto-foto tentang kekayaan alam hayati lautan Indonesia.

Blog ini dikelola oleh Iman Brotoseno, PADI Dive Instructor.

© Dunia Laut. Design by Muhammad Zamroni.