Hiu Paus Teluk Cendrawasih

Matahari belum sepenuhnya tinggi pagi ini. Namun hiruk pikuk porter yang menawarkan jasa tiba tiba  membuat ruangan terasa sesak, tak lama setelah pesawat Batavia Air yang membawa kami tiba di Bandara Rendani, Manokwari. Ruang kedatangan menjadi satu dengan tempat mengambil bagasi, lebih mirip gudang daripada sebuah terminal.   Sambil mencoba mencari udara segar di luar, saya melihat di seberang, sebuah konstruksi bangunan terminal baru yang tengah dibangun. Manokwari memang mestinya memiliki airport yang lebih layak,  sebagai ibu kota Papua Barat.

Perjalanan kali ini memang terasa beda. Ody dive dan Kementrian Budpar sudah jauh hari merencanakan ekspedisi di Taman Nasional Teluk Cendrawasih, tentu saja dengan ‘ highlight ‘ melihat Hiu Paus – Whale Shark – di dekat desa Kwatisore, Papua Barat.

KM Temukira, sebuah kapal phinisi yang didisain ulang menjadi sebuah kapal ‘ live aboard ‘ untuk melayani penyelam penyelam akan menjadi rumah kami selama seminggu. Johny sebagai liasion officer dari perusahaan pemandu jasa penyelaman sudah menjelaskan hal hal yang perlu diketahui tentang jadwal,  crew kapal serta, this and that selama perjalanan.

Tepat setelah sarapan pagi diatas kapal, kami melakukan check dive di teluk Doreri di depan pelabuhan Manokwari. Kali ini check dive berupa penyelaman wreck bekas kapal perang Jepang, Shiwamaru.

Bangkai kapal masih relative utuh dan ujung kapal terletak disekitar kedalaman 20 meter. Visibility yang buruk tidak mengurangi rasa penasaran saya untuk memasuki ruang palka kapal yang misterius.  Tadeus, salah seorang guide membawa turun  lebih dalam, dan disebuah ruangan, tampak bergeletakan puluhan botol botol sampanye dalam keadaan utuh yang diselimuti lumut selama puluhan tahun.

Setelah penyelaman pertama ini, Kapten Abubakar langsung mengangkat sauh menuju tenggara memasuki perairan teluk Cendrawasih. Kami berencana berlayar menyebrangi laut lepas menuju pulau Wairundi. Perjalanan dari siang hari ditempuh semalaman.  Laut yang bergelombang membuat kapal mengalun naik turun yang membuat beberapa teman teman saya mabuk laut.  Mereka silih berganti menumpahkan isi perut di buritan atau pinggir kapal.  Sementara saya dengan tenang masih bisa menikmati cemilan sore sambil membaca buku.

Esok paginya kapal sudah melepas jangkar di sekitar Pulau Warundi. Sebagai gambaran, Taman Nasional Teluk Cendrawasih merupakan area seluas 15. 535 km2 yang terdiri dari pantai dan ekosistem hutan bakau 0.9 %, area terumbu karang 5,5 % ,hutan didaratan pulau pulau 3,8 % dan yang paling banyak adalah wilayah perairan sebanyak  89,8 %.

Dalam Taman Nasional, sebanyak 150 species terumbu karang telah diidentifikasi, terdiri dari 15 familiy yang tersebar di sekitar 20 pulau utama. Disamping itu lebih dari 200 jenis ikan terdapat di sini.

Pemandangan pertama yang saya lihat dalam penyelaman di sekitar Wairundi Reef, banyak sekali kerusakan terumbu karang. Problem utama dari Taman Nasional Teluk Cendrawasih adalah praktek mencari ikan menggunakan bom yang dilakukan nelayan nelayan asal Sulawesi, khususnya Buton.  Ini jalan pintas mendapatkan ikan dengan mudah. Walau efeknya bukan main main, karena kerusakan hampir menyeluruh di seluruh wilayah.  Tiba tiba saya teringat penyelaman beberapa tahun lalu disekitar Pulau Biak yang juga berbatasan dengan Taman Nasional Teluk Cendrawasih. Saat itu ditengah keheningan dalam laut, saya kadang kala mendengar suara ledakan di kejauhan. Miris dan tak bisa berbuat apa apa melihat proses penghancuran ekosistem.
Tentu saja jika terumbu karang rusak, berakibat hilangnya ikan.  Karena terumbu karang merupakan rumah ikan.  Sisa sisa terumbu karang yang sehat memang masih ditemui di sekitar Wairundi reef, ke arah pulau.  Deretan table coral acropora masih terlihat memenuhi area sehingga ikan ikan masih terlihat sliwar sliwer dengan tenangnya, seperti  jenis hawkfishes, sweetlips, kerapu bintang dan batfish.

Saya juga melihat Eagle Ray ( aetobatus narinari ) dan Hawkbill turtle yang melakukan maneuver dengan tenangnya. Taman Nasional Teluk Cendrawasih juga menyimpan setidaknya 4 jenis varian penyu, selain Hawkbill turtle juga green turtle, Olive Ridley turtle dan leatherback turtle.

Penyelaman di sekitar Wairundi Reef berakhir sore, dan kami harus menempuh semalam lagi sebelum mencapai tujuan penyelaman kami. Sinyal handpone sudah hilang. Saatnya menyimpan segala gadget komunikasi. Kapal bergerak menuju selatan menuju teluk Wororomi, dimana desa Kwatisore berada. Kali ini, cuaca bernasib baik, laut tidak bergelombang seperti kemarin.

Sekitar subuh, saya sudah terbangun karena merasakan kapal yang berhenti. Namun saya baru beranjak dari tempat tidur ketika hari sudah mulai terang.  Tepat didepan kapal kami, sebuah bagan – tempat nelayan menangkap ikan menggunakan jaring – dengan hiruk pikuk burung burung di atasnya yang mengincar remah remah ikan yang dibuang nelayan.

‘ Sudah ada dua Whale shark dibawah bagan ‘ kata Johny membuka percakapan pagi.  Tentu saja, adrenalin saya melonjak lonjak tak sabar untuk segera memulai penyelaman secepatnya.

Whale shark, atau Hiu Paus ( Rhincodon Typus ) merupakan jenis ikan terbesar di dunia.  Jangan salah sangka. Ini bukan jenis Paus, mamalia bernafas dengan paru paru. Kebetulan saja, namanya Hiu Paus, dan tetap jenis ikan yang bernafas dengan insang.  Ciri khasnya, yakni diseluruh tubuhnya memiliki pola totol totol putih.

Salah satu keunikan whale shark di sini, mereka selalu ada disekitar bagan bagan yang ada di wilayah ini. Ini tak dapat dilepaskan dari asal muasalnya, bahwa mereka Hiu Paus selalu mencari makanan dari sisa sisa ikan puri – sejenis ikan kecil – yang menyangkut dan dibuang oleh nelayan nelayan  asal Sulawesi penghuni Bagan.

Jadilah mereka teman sang nelayan sehari hari.  Dengan jinaknya, mereka menunggu dibawah bagan, sambil sesekali mulutnya muncul dipermukaan untuk menunggu ikan ikan puri yang dilempar para nelayan.
Hiu Paus ini merupakan hiu harmless, tidak berbahaya. Ia juga tidak memiliki gigi tajam tajam di mulutnya.  Selain itu mereka sangat curious, selalu ingin tahu sehingga terkesan menikmati bermain main bersama kami penyelam. Mereka senang berputar putar berenang diatas buih buih gelembung udara yang keluar dari tabung. Seolah jadi terapi yang menyenangkan bagi mereka.

Kami menghabiskan 3 kali penyelaman sepanjang hari disini, dengan rata rata lama setiap penyelaman diatas 1 jam, karena memang tidak dalam dalam.  Hiu Paus umumnya berada di kedalaman 1 sampai 5 meter saja. Bagi yang sudah menyelesaikan penyelaman, bisa menambah jatah bermain main dengan bersnorkeling dan melakukan skin dive.

Selama 2 hari kapal kami bersandar di sini, walau kalau malam agak menepi kedekat pantai yang terlindung. Memang angin bertiup cukup kencang sehingga membuat permukaan laut agak ‘ choppy ‘, yang membuat kapal agak mengalun naik turun.
Pada hari kedua,kami berpindah Bagan. Entah kenapa alasannya. Mungkin karena persediaan ikan puri di bagan yang kemarin sudah habis.   Sekali lagi sepanjang hari kami menghabiskan waktu dengan hiu paus ini.  Kadang saya berganti mode kamera dari still photo ke video, dan sebaliknya.
Hingga saatnya berpisah. Menjelang sore hari kami meninggalkan sahabat sahabatku Hiu Paus.  Sekelompok lumba lumba tampak mengiringi kepergian kapal kami.  Tak tahu kapan kembali kesini.
Kami sempat melakukan penyelaman di pulau mantas, dengan kontur yang shore dive yang masih terawat terumbu karangnya. Salah satu yang tersisa dari kerusakan pada umumnya di Teluk Cendrawasih. Semoga ini masih bisa bertahan.

Perjalanan ke desa Kwatisore berakhir, kembali ke peradaban.  Sambil memandang senja yang temaram. Saya bergumam. Semoga sahabat sahabat hiu paus akan tetap berada disana. Biarlah mereka tersembunyi dari hiruk pikuk dunia luar.  Bahkan untuk seribu tahun lagi.

TIPS MENUJU KESANA

  • Ada beberapa cara menuju site ini.  Pertama dengan pesawat regular dari Jakarta atau Makasar menuju Jayapura, yang dilanjutkan dengan pesawat kecil ke Nabire. Dari Nabire perjalanan bisa ditempuh melalui darat sebelum diteruskan dengan boat menuju Bagan Bagan.  Kedua, dengan terbang dengan pesawat reguler ke Manokwari lalu diteruskan dengan kapal menuju lokasi Desa Kwatisore.
  • Selain liveaboard ( tinggal di Kapal ), ada beberapa resort di sekitar Ahe yang memberikan pelayanan melihat Hiu Paus. Tinggal pilih sesuai ukuran budget.

Share

  1. 0
    7 September 2012 08:17:40

    Antyo

    Takjub baca cerita dan foto.
    Takjub karena pelakunya orang yang saya kenal. 🙂
    Saya membayangkan sampanye itu tetap di tempatnya sampai akhir zaman, biarlah menjadi sejarah di tempat yang tepat, dan tempat yang tak semua orang bisa melihat.

  2. 0
    7 September 2012 11:18:17

    Brama Danuwinata

    Keren mas tulisan dan fotonya. Kapan ya saya bisa ke teluk Cendrawasih? 😐

  3. 0
    7 September 2012 11:24:59

    didut

    beneran iri sama orang yg bisa berenang, bisa snorkeling didalam laut seperti itu 😐

  4. 0
    10 September 2012 22:09:47

    Zam

    wohoo… nulis soal selam juga aahh.. tapi fotonya gak ada.. :))

    keren, mas!! jadi pengen ngeliat hiu dan pauss!!

  5. 0
    13 October 2012 09:26:49

    cara pemesanan jelly gamat luxor

    ngiri saya liatnya, kapan saya bisa liburan seperti anda 🙁

  6. 0
    19 November 2013 11:10:00

    buru

    keren juga nih bisa ketemu hiu paus…
    semoga selalu terjaga kelestariannya, baik habitat maupun penghuninya.

  7. 0
    30 July 2015 13:16:10

    Kama Nugraha

    Kalo liat dari foto, video, ulasannya itu makhluk ciptaan Tuhan yang sangat mengagaumkan.. dan bagus banget… jadi pengen kesana.. cek juga info menarik seputar wisata disini >> http://goo.gl/Ly8G2i

Latest

About

Dunia Laut berisi kumpulan cerita dan foto-foto tentang kekayaan alam hayati lautan Indonesia.

Blog ini dikelola oleh Iman Brotoseno, PADI Dive Instructor.

© Dunia Laut. Design by Muhammad Zamroni.